“Aldo…” teriak mamaku.
“Katanya minta dibangunin jam 5 subuh… hei banguun, sekarang sudah hampir jam 6 nih”
“Ayo nanti kamu telat” mamaku sambil mengoyang-goyangkan kakiku.
“haaa jam berapa sekarang?” aku terbangun sambil mengulek-ngulek kuping kananku dengan jari. Sepertinya aku belum sadar betul kalau aku belum belajar untuk ujian matematika nanti. Maksud hati mau belajar satu jam sejak dari jam 5 tadi, aku rasa cukup karena bahannya sedikit.
“Jam 6?, mati aku mah, mati aku mah, telaatt” loncatku dari atas kasur yang berantakan. Aku langsung ngacir ke kamar mandi di iringi tatapan mamaku sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.
Aku mandi dengan cepat, karena aku harus belajar lagi, belum lagi motorku di pinjam sama Rudi. Aku memaki-maki Rudi yang pulang jam dua dinihari tadi. sejak jam sepuluh malam dia masih bersemangat ngobrol denganku dan aku sudah mengingatkannya kalau aku ada ujian besok dan aku harus tidur cepat agar tidak bangun telat. Dia malah betah dikamarku tidak mau beranjak pulang. Dan antusias mau mengajarkanku satu ilmu baru yang dia dapatkan dari pamannya. Dia mengatakan kalau ilmu ini semacam ilmu telepati.
“ayo Do, kita praktekan ilmu ini” katanya dengan serius.
“Aku baru mempelajarinya dan belum diujicoba. Harus dua orang pelakunya, kalau aku sendiri yah tidak bisa” terangnya agar aku mengerti.
“Gimana cara kerjanya ilmu ini?” tanya diriku mulai sedikit penasaran.
“Nah bagus lo sudah mulai tertarik sepertinya” Rudi senang mengetahui aku terpancing.
“ini ilmuu, pelakunya tidak boleh dipaksa. kalau terpaksa pasti tidak jalan” terangnya.
Kemudian Rudi memerintahkan aku untuk duduk bersila, membelakangi dirinya yang juga duduk bersila. Aku disuruhnya tenang dan tidak mengeluarkan sebuah katapun selagi dia merapal rapalan.
“Lo harus tenang, bikin diri lo senyaman mungkin, coba ngebayangin kalau lo lagi di tepi sungai yang mengalir sejuk” perintahnya kepadaku.
Akupun melakukan yang diperintahkan dengan penasaran. Hampir 15 menit lamanya dia melakukan ini, terasa kesemutan kaki menunggu dia menyelesaikan semua rapalan.
“Selesai” Rudi beranjak berdiri sambil minum air putih yang ada di meja belajarku.
“Trus, gimana cara kerjanya Rud? tanya diriku bingung.
“Aku belum tahu” katanya sambil menyengir. “Kan ada proses aktivasi tiga atau empat jam” alasannya mengeles. Emang baru beli kartu telpon,pake aktivasi-aktivasi segala, gerutuku dalam hati.
“Besok gue telpon lo deh buat ngetest ini” sambil mengemasi barang-barangnya. Dia pulang dan meminjam motorku. Alah ribet banget, gumamku dan menyesal ikut-ikutan. Aku masuk kekamar dan tidur secepatnya setelah menghantarkan dia keluar dan pulang.
Untungnya aku tidak menunggu lama untuk mendapatkan tumpangan, dua menit aku berdiri bus jurusan arah sekolahku muncul. Aku bergegas masuk dan mendapatkan kursi dibelakang. Aku membuka buku dan mulai belajar sesempatnya.
“Aldo”, ada suara terdengar dari kupingku. Jelas terdengar dekat sekali. Aku kaget dan menoleh kekanan dan kiriku, memastiakn bahwa bukan orang yang disebelahku yang memanggil.
“Jangan bingung do, ini gue. lo yakin kan sekarang kalau ilmu ini keren, gue gak perlu habisin pulsa buat nelpon lo hehehe”
“ohw iya, lo belum bisa ngejawab gue kan?, dengerin nih gue kasih tahu caranya”.
“Dengerin baik-baik ya. Setiap lo mau bicara ama gue lo kedipin tuh mata lo dua kali trus ngomong deh tapi dalam hati, gue pasti denger” jelasnya kepadaku.
Akupun mencoba mengedipkan kedua mataku bersamaan dua kali.
“Test test” aku mencoba melakukan tepati kepadanya.
“Test diterima Do” jawabnya jelas ditelingaku.
“Gila canggih banget” kataku girang sambil nyengir. Kutoleh kepalaku kekanan dan kekiri untuk memastikan tidak ada yang melihat aku tersenyum.
“Canggih dong… Rudi gitu loh” bangganya.
“Tenang gue tau lo belum belajar. lo santai aja, gue bantuin lo ntar.
“Wah asik nih, beneran ya lo bantuin gue. asli gara-gara lo gue gak sempat belajar” kataku sambil tersenyum.
Bunyi bel Sekolah berdering dengan kerasnya. Bersamaan dengan keluarnya diriku dari dalam bus, aku berlari segera memasuki gerbang. Tapi ada tangan menahan kedua bahuku dari belakang, membuat lariku terhenti. Aku tidak bisa melihat tangan siapa yang menahanku dan aku tidak bisa berlari lagi.
“Aldoo, banguun…” mamaku mengguncang-guncang bahuku agar aku terbangun.
“Susah banget sih bangunnya. Katanya mau belajar, ayo sekarang hampir jam 5. Sana bangun Subuh dulu” mama beranjak keluar kamar setelah mengetahui aku sudah tersadar dengan tatapan kosong.