Menari di awan

yuhuu adik…

sok mau manggil kakak apa aja ok kok, kalau untuk kamu, apa sih yang gak boleh? Semua boleh… Mau gemerlap bintang? Nanti kakak petikkan sejumlah bintang dan kakak susun di langit kamarmu. Mau bulan? Nanti kakak genggam sang bulan dan kakak gantungkan di pojok kamarmu. Mau menari diantara awan bersama bulan dan bintang? Nanti kakak ciptakan rapalannya dulu ya bagaimana bisa untuk terbang hehehe.

ok adik, yang ini rada serius ya. Kok sekarang adik suka ngambekan yaa (atau sebaliknya :D). Kok sekarang suka cepatan marah ya kalau kakak telat sebentar atau lama:D

Ya ok lah adik, anu apa hmmm.. Iya diary sudah kakak baca sampai akhir. Asik kakak senang menunggu jilid dua nya yaa… Tapi kakak juga nulis diary? Yahh bukan gak mau yaa. Cuma gak pernah punya diary, semua nya tertulis didalam hati πŸ˜€

soon reply kakak lagi ya
meloveyou:*

Untuk Kamu, apa sih yang enggak boleh?

Seperjalanan waktu, detik, menit, jam dan haripun berlalu. Tanpa terasa kini dirimu dan keluarga sudah pindah jauh, kamu terpaksa mengikuti papamu yang pindah tugas. Aku sangat tidak bisa menerima pada awalnya… Tapi siapa diriku yang mengatur segala persoalan keluargamu. Tapi serius deh, sangat berat mengetahui dirimu akan segera pindah walau kamu memberitahukan tentang itu tiga bulan sebelum keberangkatanmu. Menjalani tiga bulan terakhir menjelang keberangkatanmu sungguh berat bagiku, aku tidak bisa berlaku biasa, kadang aku salah tingkah didepanmu. Tidakkah kamu merasakannya? apa kamu juga merasakan itu?

Kadang dalam kebersamaan kita menjelang tiga bulan itu, kita beberapa kali sering berantem. Ya aku rasa suatu kejadian yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Hanya hal-hal kecil saja bisa membuat kita diam-diaman selama hampir 1 x 24 jam. Tapi setelah itu, saat matahari menjelang terbit, fajar segera menyingsing, disaat aku terbangun dari tidur lelapku, perasaan rindu menjadi menggebu-gebu, ingin segera menghubungimu. Berkata ‘maaf’ dan membalasnya dengan menghibur kesedihanmu yang kemarin. Aku sedih disaat hari kepergiannmu dulu, aku hanya mengirim sms dengan sebaris kalimat, tanpa datang mengantarkanmu kebandara. Aku bisa mengerti kebingunganmu terhadap mama dan papamu yang pasti bertanya-tanya kenapa aku tidak datang. padahal teman-teman kita semuanya hadir. aku sendiri kalau menjadi dirimu tentu akan bingung mengatakannya apa yang harus kukatakan.

Tapi ya sudahlah… Itukan dulu, kini tentunya kamu damai disana. Setiap saat dikunjungin sama mama dan papamu. Aku maaf belum bisa mendatangimu, walau sekadar menatapmu pun aku belum berani. Aku sedih dengan apa yang telah terjadi dengan semua ini. Aku sedih karena setiap malam dirimu seolah menatapku, melihatku. Aku tahu kamu rindu sama aku dari sejak kepergianmu dulu sampai sekarang. Mungkin ada beberapa kata yang kamu ingin sampaikan kepadaku, kata-kata yang dari dulu kamu ingin katakan. Tapi aku tahu kok apa yang ingin kamu katakan, karena aku juga ingin mengatakan hal yang sama kepadamu. Kalau kamu itu sangat mencintai aku, aku juga begitu sungguh mencintaimu dan aku selalu ingin melakukan apapun untuk dirimu. Untuk kamu tidak ada yang tidak bisa aku lakukan. Walaupun kini kamu telah jauh sekali dari aku, tapi aku tahu perasaan kamu itu bagaimana, sama dengan kamu yang tahu perasaan aku juga bagaimana.

Kita tumbuh dan bermain dari kecil, hingga kini timbul butir-butir cinta yang dihasilkan dari kebersamaan kita selama ini. Segala halangan sampai rintangan yang pernah terjadi semua sudah kita lalui. Dari mereka-mereka yang suka sama kamu atau teman-temanku yang suka sama aku, semua itu bisa kita hindari karena kita memang saling cinta.

Kini aku merasakan kalau dirimu selalu berada dalam hatiku. Kamu jangan sedih, aku selalu ingat apa yang terjadi dan selalu mencintaimu. Beberapa saat memang aku kadang ikut terhanyut dalam perasaaan ini walau tidak kutunjukkan pada kedua orang tuaku.

Dan aku masih merasa bersalah kepadamu. Aku yang jahat melukai hatimu karena hanya masalah kecil yang selalu terjadi. Sampai aku tidak bisa menghantarkan kepergianmu. Kesedihanku yang paling besar adalah aku tidak bisa hadir pada saat hari pemakamanmu, pada saat hari terakhir kamu didunia ini aku tidak ada. aku tidak mengetahuinya, tidak ada yang mengabarkan kepadaku. Aku sungguh sedih…

Pada hari itu tiga hari setelah kedatanganmu ke kota itu, aku mencoba untuk meng sms dirimu.

Aku tulis β€œsayang.. apa kabar? Gimana keadaan disana? Aku maaf ya tentang hari itu… :*”

Dan beberapa saat kemudian aku menerima balasan sms darimu yang mengatakan

β€œSayang, I miss You so much:*”.

Mendapatkan sms darimu sungguh membuat hatiku girang saat itu. Aku langsung menelponmu, nada sambung terdengar disana tapi telponmu mendadak terputus sebelum kamu mengangkatnya. Aku telpon balik tapi seperti tidak ada sinyal atau memang seperti hp yang sudah dimatikan. Aku takut kalau dirimu masih marah kepadaku sehingga kamu mematikan hpmu setelah sms itu.

Besok dan besoknya aku masih berusaha menelpon kamu dan hpmu selalu saja masih mati. Dengan segala keberanian aku mencoba menelpon orang tuamu menanyakan tentang dirimu. Dan jawaban yang aku dapatkan membuat seolah petir menyambar diriku, hatiku kecut sejuk terasa, jantungku seperti berhenti berdetak, aku tertunduk. Bajuku mulai basah, air mataku mengalir tanpa bisa kutahan. Aku mendapatkan berita tentang kecelakaanmu. Seolah aku akan mati juga saat itu, seolah aku ingin mengejarmu, menangkapmu.

Perasaan bersalahku semakin besar dan besar karena sampai kini aku belum bisa mendatangimu menjengukmu menabur bunga cinta di pusaramu, menyiramkan air sukma di makammu dan memanjatkan doa disamping kuburmu. Aku janji aku akan datang segera ketempatmu, karena aku sangat mencintaimu sayangku…
kamulah cinta kecilku dulu sampai kini sampai akhir hayatmu, sampai akhir hidupku nanti… Always and forever.

Cintaku mentok di Kamu

Pagi dingin menyelimuti kota Batam. Hujan yang mengguyur deras dari tadi malam membuat malas siapapun untuk beranjak dari tempat tidurnya masing-masing. Mengingat hari ini adalah hari Sabtu, weekend bagi sebagian besar orang. Tapi tidak bagiku, aku harus beranjak memaksa tubuh yang malas ini untuk segera kekamar mandi. Air dingin yang membuat menggigil seluruh badan tidak menyurutkan langkahku untuk beraktifitas di hari libur.
Aku bersiap dengan segala perlengkapan kerja, sambil sarapan roti dan segelas teh panas untuk sekadar menghangatkan badan yang kedinginan.
Siap semuanya, akupun berangkat ke kantor dengan mengenderai motor. perjalanan licin dengan udara yang dingin menghantarkan pengendara ini untuk berjalan dengan hati-hati.

Teringat kejadian tadi malam, aku menghadiri acara ulang tahun Shinta, salah satu teman kantorku yang diadakan dirumahnya. Acara cukup meriah dengan dihadiri kebanyakan teman-teman kantor. Cuma ada beberapa teman Shinta yang tidak kukenali, salah satunya Lina. Seorang karyawati disebuah bank swasta. Lina datang bersama dua orang teman lainnya, Widya dan Joko yang berbadan tegap layaknya security bagi mereka. Aku sungguh tertarik dengan wanita yang bernama Lina ini. Orangnya cantik dan enak diajak bicara, kita kenalan dan banyak menceritakan tentang background masing-masing. Lina berasal dari Bali, sudah dua tahun ini dimutasi atau lebih tepatnya meminta dimutasikan karena mengikuti ayahnya yang pindah tugas kesini, dan kini ditugaskan mengisi kantor cabang di Batam. Dan ternyata rumahnya juga tidak jauh dari komplek rumahku.
Di akhir acara, Shinta – temanku yang berulang tahun menghampiriku sebelum aku beranjak pulang. Dia memberikanku secarik kertas dan langsung memasukkan kedalam saku jacketku. Ini dari Lina, katanya dan kamu jangan baca disini ya.
Malam itu hatiku berbunga-bunga karena dapat perhatian dari seorang Lina dan entah apa yang dituliskan di kertas itu, sebuah janji? atau alamat rumahnya? ahh tidak sabar rasanya untuk segera membaca apa yang ditulisnya.

Sesampainya aku dikantor, aku langsung menuju meja kerjaku dan ku raih secarik kertas dari jaket yang kukenakan. Untung tidak hilang, tadi malam aku langsung tidur dan lupa tentang secarik kertas yang ada didalam jacket, karena hujan sudah turun disaat aku sampai kerumah, akupun langsung tertidur.

Aku membaca tulisan tangan yang rapi di atas kertas itu, “081274851222 cintaku mentok di kamu, telp balik pls”.

Ini sebuah pengharapan yang sudah lama aku mimpikan, kini ada wanita yang memberikan sinyal kepadaku dan tentunya tidak boleh aku lewatkan. Jam baru menunjukkan pukul 08,35. aku memberanikan diri untuk memutar nomor yang tertera dengan tidak sabar. Aku berdoa semoga ini jawaban Tuhan untuk mengakhiri masa jombloku yang sudah lama. Terdengar suara nada masuk di seberang sana setelah aku memutar nomor tersebut.

“Selamat pagi, Joko disini.” terdengar suara cowo yang menjawab.
Secepat kilat langsung kuputuskan sambungan telpon. Sekelebat bayang wajah Shinta tertawa terbahak-bahak menertawaiku sambil koprol. πŸ˜‰

Diary 1

dear adik,

sekarang sudah siang, matahari bersinar terik, panas membakar setiap inci sudut bumi.

Sedang apakah dirimu disana? Besok weekend apa rencana adik disana? masih sering ke pantai sendiri tidak?
bertelanjang kaki menyusuri garis pantai yang pendek, pantai kecil didekat rumahmu. bermain ditemani angin sore, melihat para nelayan memancing mengayunkan joran atau sekadar turun dari sampan setelah memasang bubu perangkap ikan.
Biasanya adik berlarian mengejar para ketam atau mencari bintang laut yang hanya diam menunggu pasang datang, adik disana biasanya sampai sunset menghilang.
Ahh, kakak sekarang berada di kota yang tidak mempunyai garis pantai, dikelilingin bangunan tinggi-tinggi menjulang. Kadang terasa rindu ingin menenggelamkan diri ke dasar lautan, mati dong hehehe…

Owh ya, kakak mau cerita tentang diary yang adik sudah beri kekakak. Tulisan, coretan, pictures, puisi dan segala macam yang ada hubungannya dengan kita telah rampung kakak baca dan kakak pandang cihuyy

Diary 1
Diary 1

So sweetloh diberi diary edisi pertama ini, Buku yang penulisannya mungkin selama satu tahun itu… hmm good good good.
Dan kini kakak menunggu buku yang edisi kedua ya… yang katanya sedang dalam pengerjaan πŸ˜‰

Jaga diri ya adik, kakak miss you always.

meloveyou,

7361

Bales kangenku dong

Reza menata rapi pakaian yang telah di setrika dari dua jam yang lalu. Dia harus menyelesaikan semua pekerjaan ini agar bisa menikmati malam dengan santai dan nyaman. sudah dua malam reza begadang demi menyelesaikan sisa-sisa pekerjaan mirsa pacarnya, yang mendadak harus pulang ke Bandung karena ada keperluan mendadak yang harus diselesaikan. Pekerjaan mirsa tidak sulit diselesaikan karena mereka berdua memang bekerja pada kantor yang sama. Semua sudah siap dan telah rampung kini.

Mereka adalah pasangan yang ideal, reza tinggi cakep sedangkan mirsa juga tinggi cantik. Hubungan yang sudah terjalin hampir lima tahun membuat mereka sudah saling percaya satu sama lain. Tidak ada yang perlu dicurigai jika salah satu dari mereka harus melakukan pekerjaan keluar kota.
Tahun depan mereka merencanakan untuk menikah. persiapan matang telah mereka lakukan, sedikit demi sedikit mereka telah cicil dari sekarang.

Malam itu Reza mulai menikmati waktu-waktu santainya. Dia menonton TV sambil ditemani dengan secangkir susu panas. Sejurus kemudian terdengar ketokan dari pintu depan. Rezapun beranjak menuju ke ruang tamu. “Loh kok, pulang gak ngabarin..” katanya kaget melihat sosok sang kekasih muncul dengan raut muka yang capek.
“iyaa tau tuh mummy, katanya sudah baikan dan maksa suruh pulang segera ke Jakarta” tuturnya sambil mendekap erat tubuh Reza. Rasa kangen selama tiga hari membuat mereka sejenak berpelukan.
“Aku gak bawa apa-apa yah, abis tadi juga buru-buru, Bandung di guyur hujan dari pagi sampai berangkat tadi” sambil masuk kekamar Mirsa meninggalkan Reza diruang TV.
Kemudian dia keluar kamar sudah berganti pakain rumah yang nyaman dan duduk disofa disamping reza.

“Gimana say kerjaannya? ” tanya mirsa. “Udah aku letakkan dimeja kerja kamu tadi. aku sudah dua kali periksa, kelihatanya perfect” jawab Reza meberikan laporan.

“Gimana mummy? sudah baikan?” sambil memeluk tubuhnya dari samping Reza bertanya.

“Mummy ok, dia cuma kangen aja sama aku, makanya aku disuruh pulang bentar.” desahnya kegelian karena aku menggelitik pinggangnya.
“Udah ah.. geli dong say!” elak Mirsa bergeser sedikit kedepan menghindar dari jari-jariku yang ikutan kangen untuk menggelitiknya.

“Aku pulang ya dek” kata Reza memanggil Mirsa dengan panggilan adek.
“Udah jam 11 malam, kirain tadi kamu pulang besok pagi, lagian besok aku ada janji sama customer untuk membicarakan proyek akhir bulan”.

“Gak, kamu jangan pulang dong. Temenin aku malam ini” pujuk Mirsa sambil menggelayutkan tangannya pada lengan reza.
“Please, malam ini saja” mohonnya. “Kamu gak kangen ama aku ya say, bales kangenku dong” pintanya sambil meluk Reza dari belakang.

Sambil menghela nafas panjang, Reza menganggukan kepala tanda setuju untuk menemani pacarnya disini. Bukan Reza jika tidak bisa membahagiakan kekasihnya.
Malam itu menjadi malam yang panjang bagi mereka. Tiga hari berpisah seolah tiga tahun tak berjumpa.

—————

Bunyi ketokan pintu depan terdengar sampai kekamar. Membangunkan Reza yang masih dibungkus selimut. Mirsa sudah tidak ada dikasur, mungkin dia sudah bangun dan sekarang berada didapur untuk menyiapi sarapan.
“Dek… ada orang diluar, tolong bukain pintu depan dong” teriak Reza. Dia masih tidak beranjak dari tempat tidur. Udara dingin AC masih membuatnya malas.
Kembali suara ketukan pintu depan terdengar dan sekarang lebih keras.
Dengan malas Reza bangun menuju ke dapur mencari keberadaan Mirsa. Didapur tidak ada, dikamar mandi tidak ada, ah mungkin ke warung membeli telor mengingat stock habis olehnya.
Reza menuju ke pintu depan dan membuka pintu.

“Hi say, baru bangun yaa.” tegur Mirsa melihat Reza yang masih kelihatan lusuh. Tapi tetap memeluk Reza dengan hangat. Sambil masuk kedalam rumah mirsa menenteng dua kantong bawaannya. Meninggalkan reza yang masih kelihatan bingung.

“Itu ada oleh-oleh dari mummy satu kantong buat kamu, yang satu lagi buat aku, mummy kirim salam dan nanyain kok kamu gak ikut. aku katakan aja kalau ada kerjaan yang nggak bisa di tinggal.” cerocosnya dipagi ini.

“Kamu dari mana dek?” tanya Reza sudah mulai curiga dan kuatir.

“Kan aku udah janji pulang pagi ini, tadi nebeng mobil wak yang kebetulan berangkat ke bandara.

Rezapun bengong sambil terduduk di sofa.

Surat didalam botol

Hi kamu,

Iya, kamu yang membaca surat ini. Surat yang aku simpan didalam botol, surat yang aku hanyutkan ditengah lautan. Kala aku menempuh perjalanan dengan kapal Pelni dari Jakarta tujuan Medan, kusempatkan menulis sebuah surat ini dengan singkat. Kemudian kugulung surat, kuikat erat dengan pita dan kumasukkan ke dalam botol. Dengan mengucapkan Bismillah kulemparkan ketengah lautan.

Entah dimana dia akan berlabuh, hanyut mengikuti arus yang tidak menentu. Bisa terdampar dipantai, mungkin tersangkut di hutan bakau, ataupun berada dikolong pinggiran rumah-rumah panggung para nelayan…

Kini Surat sudah ditangan dan kamu sedang membacanya. Saranku bacalah surat ini sampai penghabisan. Semoga kamu bisa mengerti apa yang aku tuliskan. Dan aku sungguh berterima kasih untuk ini.

Mungkin aku telah tiada disaat kamu membaca surat ini. karena menurut diagnosis Dokter, hidupku tidak akan lebih dari 2 x 48 jam lagi dari sejak saat aku menulis surat.
Aku terpukul dan kecewa dengan penyakit yang kuderita. Biarlah ku menanggungnya sendiri dan mencari akhir di kampung halaman, tempat dimana aku dilahirkan.

Aku tak sanggup untuk memberitahukan kepada seseorang yang sangat kusayang kondisi yang terjadi sekarang. Tentunya dia sedang mencari-cariku sampai saat ini. Terpancarkan wajah cantik sedih, wajah gundah gulana yang tidak kehilangan pesona.

Tapi… Ah sudahlah, terima-kasih kamu sudah membaca ini, sepertinya tidak ada yang bisa kamu lakukan lagi. Aku sudah uzur, umurku saja aku tidak ingat. Melihat dari keriput kulitku mungkin sudah diatas tujuh puluhan. Selain vonis Dokter itu, aku ada gejala alzheimer. Yang sekarang sudah menampakkan akibatnya. Aku lupa dengan seseorang yang kusayang itu. Sekadar wajahnyapun sudah pudar diingatan.

Terima-kasih sudah membaca surat ini. Tidak ada yang bisa kamu bantu lagi sekarang. Permintaan terakhirku adalah masukkan kembali surat ini ke dalam botol. Dan tolong lemparkan lagi ketengah lautan.

Bagi sesiapapun yang menemukan surat ini, bacalah. Dan kembalikan surat didalam botol ini ketengah lautan kembali.

surat didalam botol

Semoga surat ini sampai ke alamat yang sebenarnya…
Kepada seseorang yang masih kurindukan. Maafkan aku meninggalkanmu.
Datanglah dimana tempat pertama kita bertemu, semoga aku belum lupa dan bisa sampai kesana menunggu dalam diam.

dari yang pernah melupakanmu…

Sambungan hati jarak jauh

“Aldo…” teriak mamaku.

“Katanya minta dibangunin jam 5 subuh… hei banguun, sekarang sudah hampir jam 6 nih”

“Ayo nanti kamu telat” mamaku sambil mengoyang-goyangkan kakiku.

“haaa jam berapa sekarang?” aku terbangun sambil mengulek-ngulek kuping kananku dengan jari. Sepertinya aku belum sadar betul kalau aku belum belajar untuk ujian matematika nanti. Maksud hati mau belajar satu jam sejak dari jam 5 tadi, aku rasa cukup karena bahannya sedikit.

“Jam 6?, mati aku mah, mati aku mah, telaatt” loncatku dari atas kasur yang berantakan. Aku langsung ngacir ke kamar mandi di iringi tatapan mamaku sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.
Aku mandi dengan cepat, karena aku harus belajar lagi, belum lagi motorku di pinjam sama Rudi. Aku memaki-maki Rudi yang pulang jam dua dinihari tadi. sejak jam sepuluh malam dia masih bersemangat ngobrol denganku dan aku sudah mengingatkannya kalau aku ada ujian besok dan aku harus tidur cepat agar tidak bangun telat. Dia malah betah dikamarku tidak mau beranjak pulang. Dan antusias mau mengajarkanku satu ilmu baru yang dia dapatkan dari pamannya. Dia mengatakan kalau ilmu ini semacam ilmu telepati.

“ayo Do, kita praktekan ilmu ini” katanya dengan serius.

“Aku baru mempelajarinya dan belum diujicoba. Harus dua orang pelakunya, kalau aku sendiri yah tidak bisa” terangnya agar aku mengerti.

“Gimana cara kerjanya ilmu ini?” tanya diriku mulai sedikit penasaran.

“Nah bagus lo sudah mulai tertarik sepertinya” Rudi senang mengetahui aku terpancing.

“ini ilmuu, pelakunya tidak boleh dipaksa. kalau terpaksa pasti tidak jalan” terangnya.

Kemudian Rudi memerintahkan aku untuk duduk bersila, membelakangi dirinya yang juga duduk bersila. Aku disuruhnya tenang dan tidak mengeluarkan sebuah katapun selagi dia merapal rapalan.
“Lo harus tenang, bikin diri lo senyaman mungkin, coba ngebayangin kalau lo lagi di tepi sungai yang mengalir sejuk” perintahnya kepadaku.
Akupun melakukan yang diperintahkan dengan penasaran. Hampir 15 menit lamanya dia melakukan ini, terasa kesemutan kaki menunggu dia menyelesaikan semua rapalan.

“Selesai” Rudi beranjak berdiri sambil minum air putih yang ada di meja belajarku.

“Trus, gimana cara kerjanya Rud? tanya diriku bingung.

“Aku belum tahu” katanya sambil menyengir. “Kan ada proses aktivasi tiga atau empat jam” alasannya mengeles. Emang baru beli kartu telpon,pake aktivasi-aktivasi segala, gerutuku dalam hati.

“Besok gue telpon lo deh buat ngetest ini” sambil mengemasi barang-barangnya. Dia pulang dan meminjam motorku. Alah ribet banget, gumamku dan menyesal ikut-ikutan. Aku masuk kekamar dan tidur secepatnya setelah menghantarkan dia keluar dan pulang.

Untungnya aku tidak menunggu lama untuk mendapatkan tumpangan, dua menit aku berdiri bus jurusan arah sekolahku muncul. Aku bergegas masuk dan mendapatkan kursi dibelakang. Aku membuka buku dan mulai belajar sesempatnya.

“Aldo”, ada suara terdengar dari kupingku. Jelas terdengar dekat sekali. Aku kaget dan menoleh kekanan dan kiriku, memastiakn bahwa bukan orang yang disebelahku yang memanggil.

“Jangan bingung do, ini gue. lo yakin kan sekarang kalau ilmu ini keren, gue gak perlu habisin pulsa buat nelpon lo hehehe”

“ohw iya, lo belum bisa ngejawab gue kan?, dengerin nih gue kasih tahu caranya”.
“Dengerin baik-baik ya. Setiap lo mau bicara ama gue lo kedipin tuh mata lo dua kali trus ngomong deh tapi dalam hati, gue pasti denger”
jelasnya kepadaku.

Akupun mencoba mengedipkan kedua mataku bersamaan dua kali.
“Test test” aku mencoba melakukan tepati kepadanya.

“Test diterima Do” jawabnya jelas ditelingaku.

“Gila canggih banget” kataku girang sambil nyengir. Kutoleh kepalaku kekanan dan kekiri untuk memastikan tidak ada yang melihat aku tersenyum.

“Canggih dong… Rudi gitu loh” bangganya.
“Tenang gue tau lo belum belajar. lo santai aja, gue bantuin lo ntar.

“Wah asik nih, beneran ya lo bantuin gue. asli gara-gara lo gue gak sempat belajar” kataku sambil tersenyum.

Bunyi bel Sekolah berdering dengan kerasnya. Bersamaan dengan keluarnya diriku dari dalam bus, aku berlari segera memasuki gerbang. Tapi ada tangan menahan kedua bahuku dari belakang, membuat lariku terhenti. Aku tidak bisa melihat tangan siapa yang menahanku dan aku tidak bisa berlari lagi.

“Aldoo, banguun…” mamaku mengguncang-guncang bahuku agar aku terbangun.

“Susah banget sih bangunnya. Katanya mau belajar, ayo sekarang hampir jam 5. Sana bangun Subuh dulu” mama beranjak keluar kamar setelah mengetahui aku sudah tersadar dengan tatapan kosong.

Surat untuk cinta

dear cinta,

apa kabarmu disana?
Dulu kau kusayang penuh rasa, berdua bersama sepanjang jalan dari pagi siang hingga ke sore. kadang sampai malam baru berakhir, berceloteh jenaka tanpa tahu banyak mata memandang. Kadang berisik tertawa tanpa alasan menunjukkan kalau kita sangat menikmati kebersamaan.

Dulu aku sangat kau sayang, engkau relakan cintamu, engkau ikhlaskan hatimu. kau genggam erat tanganku, kau peluk diriku, seolah enggan melepaskanku pergi meninggalkanmu setelah menghantarkanmu pulang.

dulu kita saling sayang, semua teman meyakinkan kalau kita pasti bahagia hingga akhir cerita. Merajut jalan yang sudah kita rencanakan. Masa depan bahagia menjadi mimpi yang akan jadi kenyataan.

Hingga akhirnya Tuhan memutuskan, takdir cerita yang kita simpan. Engkau pergi dengan senyuman, yang tidak mungkin terlupakan.

Ahh engkau telah pergi untuk selamanya meniggalkan rindu yang tidak bisa pudar. Aku selalu datang mengunjungimu dengan senyuman yang dulu pernah kau puji sebagai senyuman termanis yang pernah kau lihat.

Aku bahagia telah mengenalmu, aku bahagia telah bersamamu.
Dan kini aku merindukanmu…

Nelangsa

dear adik,

surat adik sudah diterima dan sudah kakak baca dengan segumpal hati yang gundah. Gundah karena rindu, rindu yang tak terbendung walau adik telah sisipkan senyum didalamnya.

Kakak lemah, kakak tidak habis pikir bagaimana orang-orang dulu, jika mereka saling rindu maka mereka tidak mempunyai pilihan lain kecuali saling membalas surat melalui pos. Surat-surat berupa tulisan ungkapan hati di secarik kertas menjadi saksi bisu kalau mereka saling rindu. mereka bisa bertahan saling setia sampai saat-saat hari yang di nanti menyatukan mereka.
sedangkan kakak? nelangsa. berada disini di keramaian kota tapi berasa sepi. kala malam disaat menjelang lelap wajah adik bermain di setiap penjuri langit-langit kamar. Dan setiap di saat terjaga dari tidur kehadiran adik dipikiran selalu mendahului segala hal.
Ckckck segitu sekalinya ya..

owh ya sekarang kita diuji dalam program #30HariMenulisSuratCinta untuk session #DuaHati. Untuk berbalas surat cinta setiap harinya.
Siapa takut? kita fun-fun ajaaa…tapi,
Kakak harap ini tidak mengganggu kegiatan belajar adik ya. Usahakan belajar tetap nomor satu, begitu juga kakak di sini.

Besok atau lusa sibuk gak? kita skype yuk. kakak mau nunjukin something ke adik. something yang udah lamaa sekalii ingin kakak beritahu, tapi barangnya baru ketemu setelah lama tersembunyi. Tapi jangan kaget yaa..

Ok deh cukup sekian untuk kali ini, kakak mau mandi dan bergegas melakukan aktifitas rutin yang lumayan menjemukan. yang tidak menjemukan adalah memandang koleksi foto-foto adik yang tersimpan didalam laptop ini hehehe…

Soon reply yaa…
meloveyou

7361

Cuti sakit hati

“Boss, aku izin cuti ya tiga hari ini” pintaku pada atasan yang biasa aku panggil boss ini. Ya, dia memang boss dikantor tempat aku bekerja. Aku sudah disini sejak tiga tahun yang lalu sebagai sekretaris, tepatnya sekretaris pribadi. Tahulah kerjaan seorang sekretaris, dari handle semua schedulle sampai detail urusan pribadi, dia sering meminta aku agar bisa membantunya. Ya sebagai bawahan aku sulit untuk menolak. Dia sangat baik, kadang kebaikannya berlebihan menurutku. Kadang aku sempat berpikir kalau dia itu menyukaiku. Wah gawat, aku sampai berpikiran seperti ini. Tapi dia sangat tegas untuk beberapa hal.

“Apaan sih kamu din, kamu sudah tidak punya cuti lagi” katanya sambil menggurutu karena permintaanku. suaranya berat seperti orang yang baru bangun tidur. Ya, karena sekarang pukul dua dini hari. Aku tahu dia pasti menjawab panggilan ini, dia tidak mungkin tidak mengangkatnya. Serepot apapun dia, jika aku call pasti dijawab.

“Cuti kamu sudah habis tahun ini, lagian besok hari Senin. Kamu gak cukup ya libur weekend?” dengan tegas dia berkata ditelpon kepadaku.

“Kamu sekarang dimana?

“Kamu nggak dikost kamu ya, tadi aku telpon BB kamu tapi mati, aku telpon kekost katanya kamu tidak pulang dari malam Sabtu”

“Kamu dimana aku jemput kamu sekarang” serobotnya tanpa memberikan kesempatanku berbicara.

Aku terdiam, aku sulit untuk mengatakannya. Mataku sudah berair dari tadi, antara sedih, marah dan bingung. Aku memang tidak pulang ke kost setelah selesai kerja petang jumat. Aku nginap dirumah teman. Aku sengaja melakukan ini karena aku perlu waktu untuk menenangkan diri.

“Boss, kalau memang cuti tahunanku sudah habis, aku tetap memaksa untuk mulai cuti besok” dengan nekat aku mengatakan ini.

“Aku ambil cuti sakit hati”

“Aku sudah telat tiga mingguu.. kan janjinya gak sampai beginii…” aku mengatakannya sambil menangis.

Tut..tut.tut.. telponku terputus. Entah sengaja dimatikan atau HP nya yang habis batere.