Pulau kepulauan

Hi Batam,

Ya pulau tempat kelahiranku. Kamu itu dulu hanya sebuah pulau, tidak sebuah kota. Walau sekarang orang-orang sudah mengatakan bahwa kamu adalah sebuah kota, tapi aku lebih nyaman tetap memujamu sebagai sebuah pulau.
Pulau yang kedengarannya lebih nyaman bagiku. Sunyi, damai, suara ombak memecah pantai, suara burung-burung, nyiur melambai, matapun nyaman melihat, sejauh mata memandang hijau kelihatan di daratan, dan warna biru beriak laut dikejauhan. Kapal-kapal besar dan kecil berlalu lalang menambah menariknya kenyamanan di pulau ini.

Pulauku, engkau saksi kelahiranku. Disebuah rumah pelantar, diatas riak air laut yang bergemuruh menuju ke pentai. Rumah kenangan di salah satu pesisir pantai di pulau ini.
Yang menyedihkan adalah rumah itu kini telah tiada. Disulap menjadi sebuah hotel megah oleh entah siapa. Mungkin pengusaha atau penguasa.

Kamu berbentuk kalajengking kalau dilihat dari peta. Karena itu kamu banyak dibilang orang dengan nama pulau kalajengking. Tapi itu dulu. Sekarang bentuk kamu mungkin sudah menjadi seekor singa atau harimau atau ikan lumba-lumba? hiu? entahlah aku tidak tahu bentukmu sekarang. Karena sudah banyak timbunan dan tambahan disana-sini di sekelilingmu membuat bentukmu sudah tidak seasli dulu lagi.

Pulauku, wajarlah kalau aku kembali lagi kesini. Berbakti padamu membangun negeri sendiri. Setiap tetes curahan keringat dan usahaku selalu untuk dirimu.

Batamku, Aku akan selalu tetap menginjak di tanah leluhurku ini. Dan ku junjung selalu langit yang meneduhi dirimu.
Kemanapun aku akan pergi, kepadamu juga aku akan kembali.

I love you,

aku
di bibir pantai

Yang kadang terlupakan

Selamat siang,

Dear para guruku. Apa kabarmu kini setelah sekian tahun tidak bertemu? Ahh aku saja sudah beranjak “dewasa”, apalagi dirimu sekarang ini. Semoga kalian selalu diberikan kesehatan.

Aku ingin meminta maaf pada kesempatan pertama ini. Mengingat dulu aku pernah bolos pada waktu jam kelasmu. Sekarang aku sangat menyesal telah berbohong kepadamu.

Aku meminta maaf jika aku sering menyontek pada saat ujian. Tidak sering sih, tapi beberapa kali aku lakukan karena aku tidak percaya diri pada saat itu. Ya aku ngerti, bahasa tadi aku perhalus, sebenarnya aku tidak belajar tentunya. Aku menyesal itu pernah terjadi.

Aku meminta maaf kalau sering datang telat ke sekolah. Selalu alasanku tertiggal bus sekolah, padahal kenyataanya setiap hari aku selalu telat bangun tidur. Aku menyesal dulu aku begitu.

Aku minta maaf kalau aku dan teman-teman sering mencuri waktu untuk merokok. Yah dimana saja dan kapan saja jika ada kesempatan. Di kantin, di belakang kelas, di toilet atau pernah beberapa kali di dalam kelas. Ups… kini aku sadar semua itu salah. dan aku mewakili teman-temanku yang dulu menyatakan menyesal akan kejadian itu semua.

Terakhir aku ingin meminta maaf atas semua kejadian-kejadian yang membuat dirimu marah dan menghukum kami jika ketahuan olehmu. Tentu banyak hal-hal yang tidak bisa aku tuliskan satu persatu disini. Sangat banyak aku rasa. Dan sekarang, dari hati yang paling dalam aku sadar dan menyesali itu semua.

Tapi sesungguhnya juga sangat banyak manfaat yang kami dapatkan dari pendidikan yang telah engkau berikan. Tentang budi pekerti, ilmu pasti, kerohanian dan yang lain-lainnya.
Engkau adalah guru yang paling kuhargai, yang sangat kubanggakan. Aku dan teman-teman tidak akan bisa menjadi seperti sekarang ini tanpa bimbingan dan kasih sayangmu.

“Terpujilah wahai engkau Ibu Bapak Guru,
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku,
Semua baktimu akan kuukir didalam hatiku,
Sbagai prasasti trima kasihku tuk pengabdiannmu…
Engkau sebagai pelita dalam kegelapan,
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehauasan,
Engkau patriot pahlawan bangsa,
Tanpa tanda jaasa…

Terima kasih wahai para guru.
Aku mencintaimu.

Ttd,
Murid bandelmu.

Yang tak semestinya

Dear kamu,

Dulu,
Kamu mempesona, mencintaiku sepenuh hati.
Dulu, kamu sabar. Kesabaran yang melebihi batas hatiku.
Kamu yang mengajarkanku meniti dari awal sampai akhir mencapai apa yang kita inginkan. Kamu mengajarkanku arti sabar melawan waktu yang tidak punya perasaan.

Kini,
Hatimu menyakitkan. Menyakitkan aku yang tidak memilikimu
Hatimu menghancurkan. Menghancurkan perasaan karena kamu ada yang memiliki kini.

Seperjalan waktu. Detik, menit, minggu dan bulan tak sedikitpun aku meragukanmu. Yang ada sebaliknya, mungkin kamu yang mulai meragukanku.
Ketidaksabaranmu menunggu, menjadikan masalah menjadi runyam bagiku, tapi tidak bagimu.

Aku tahu, banyak yang menaruh perhatian kepadamu. Karena kelebihanmu membuat orang-orang telah mudah jatuh hati. dan kamu dengan mudah tinggal memilihnya bukan?
Tidakkah sedikitpun kamu melihat kedalam sini? hatiku?
Aku tidak melihat kamu yang dulu. Kamu berbeda. Ada yang membuat kamu berbeda. Dan aku yakin ini adalah suatu pilihan. Dan dengan yakin kamu memilihnya.

Tapi… ya sudahlah. Tidak kupungkiri, kalau aku mencintaimu sampai detik ini. Kalaulah memang tidak berbalas lagi, aku ikhlaskan semua yang telah terjadi.

Dari aku
Dibibir pantai

Surat kepada bintang laut

Dear bintang,

Kau menawan, dirikupun tertawan.
Kau tidak tinggi jauh diatas sana, tapi engkau berada di dasar laut, atau terdampar disepanjang bibir pantai.
Aku mengagumimu selalu, karena engkau selalu bisa dikunjungi oleh kekasih hatiku. Hampir setiap menjelang petang dia datang bermain bersamamu. Kadang dirimu disentuh olehnya, tidak jarang engkau berfoto berdua bersama. Sesuatu yang selalu membuat aku cemburu.

Hi bintang, diriku memang telah kau tawan. Tapi bisakah kau sampaikan salamku kepada dirinya? katakan kalau aku sedang merindukannya saat ini.

Oh bintang, diriku sungguh telah kau tawan. Bunuhlah gelap mataku, enyahkan keegoisan hatiku, buang emosi yang tak ku inginkan ini, hingga membuat aku kembali. Kembali.

Keluh kesahku kepadamu bintang, karena aku sudah memendam rindu ini sekian hari, tapi tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana.
Semoga kau bisa sampaikan salam rinduku kepadanya.

Dari aku yang jauh ditengah lautan.

Cut!

“Cut!” teriak sang sutradara menandakan bahwa pengambilan gambar untuk section ini selesai.

“Ayo semua istirahat, lima belas menit lagi kita continue.” sambungnya dengan semangat sambil turun dari kursi yang berkaki tinggi.

Laki-laki muda bertopi hitam ini dengan serius membaca naskah selanjutnya sambil mengepulkan asap rokok kesamping. Kadang tertawa sendiri dan kadang menyeringai menandakan bahwa dia benar-benar menghayati tulisan yang ada di kertas itu. Kemudian dari kejauhan terdengar derap langkah kaki datang menghampiri.

“Mas, maaf aku datang terlambat. Anu tadi mobil yang kutumpangi mogok, jadi aku lama mencari mobil lagi untuk kesini.” kataku takut. Dengan nafas ngos-ngosan mencoba untuk menjelaskan keterlambatanku.

“Indri, ini bukan yang pertama kali kamu telat begini.” katanya tanpa menoleh sedikitpun ke arahku

“Maaf, peranmu sudah kugantikan sama orang lain. maaf aku tidak bisa membantu lagi.” sambungnya kembali dengan tegas.

Dengan muka merah aku mencoba menjelaskan, karena keterlambatan kali ini beneran karena mobil yang kunaiki itu mogok.

“Please mas Bagas, jangan begitu dong. aku janji besok aku akan datang lebih cepat dari schedulle. Beneran ini karena mobilku itu mogok.” mohonku kepada sutradara yang bernama Bagas ini.

“Tidak ndri, aku tidak bisa mentolerir siapa saja yang suka telat.”

“Coba kamu bayangkan, ada empat orang saja yang seperti kamu aku bisa hancur, filmku amburadul.” sambil berdiri menatapku dia coba berlaku tegas.

“Sudah kamu pulang saja, cari kesempatan yang lain, maafkan aku tidak bisa membantu.” sambungnya kemudian kembali duduk tanpa merasa kasihan.

Indri yang berdiri menatap tajam Bagas. Perlahan suara isak tangisnya memecah di ruangan. Bagas sangat tidak berprikemanusiaan, dalam hati dia berkata. Setelah semua telah dia berikan pada waktu casting sebulan yang lalu, sekarang begini bayaran yang dia dapatkan. Dibuang.
Banyak mata memandang adegan ini, beberapa crew yang ada dan para pemeran masih banyak yang berada di lokasi. Mereka semua terdiam pura-pura tidak tahu tapi mendengarkan.
Bagas masih membaca dan tidak menganggapku lagi. Dia seolah tidak mendengarkan tangisku, dadaku sesak, marahku sudah diubun-ubun. Secara perlahan tanganku masuk kedalam tas yang aku bawa. Sebuah pisau telah tergenggam ditanganku kini. tidak ada yang melihat dan Bagaspun masih cuek pura-pura membaca dan meniadakan keberadaanku.
Dengan sigap dan cepat langsung kutusukkan pisau ketubuhnya dari samping. Sebuah tusukan menembus pinggangnya.

“Akhh!” teriaknya kaget sambil terjatuh kesamping dari kursinya.

“Matilah kau! dasar laki-laki tak berperasaan” semprotku sambil manarik pisau dari pinggangnya.

“Indri! gila kamu! apa yang kamu lakukan.” katanya sambil kesakitan menutup luka yang terkoyak dengan tangannya.

“Tolong! tolong!” teriaknya kepada orang-orang yang masih berada disitu.

“Jangan ada yang berani mendekat!” kataku dengan mata nanar menahan marah. “Pergi kalian dari sini, pergi!” teriakku sambil mengusir beberapa crew yang mencoba menghentikan tindakanku.

“Pergi!” kali ini aku sambil menyabetkan pisau ke depan kearah mereka yang mencoba melumpuhkanku.

“CUT!” teriak sang sutradara sambil bertepuk tangan terhadap adegan yang baru dilakukan. Sepertinya dia merasa puas setelah lima kali mengulang adegan yang sama ini.

Titip rindu buat ayah

Yang dirindukan Ayah,

Sudah sekian tahun berlalu tanpa kehadiranmu, tapi wajahmu selalu terbayang di ingatan. Sudah sekian waktu hilang kebersamaan denganmu, tapi aku selalu terseyum, karena aku tahu engkau selalu ada di hati ini.

Barusan tanpa sengaja aku mendengarkan lagu Ebiet titip rindu buat ayah. Sesaat aku teringat tentangmu. Jika memang bisa aku titipkan rindu ini melalui semilir angin, tentu akan aku lakukan. Aku ingin engkau tahu kalau aku merindukanmu.

Ayah pergi kala aku masih SMP dulu, seumuran anak yang masih sulit untuk menyadari kehilangan seorang ayah. Tapi seperjalanan waktu, bisa kupahami kenapa engkau begitu cepat pergi. Tuhan punya kehendak lain tentunya, sesuatu yang aku pahamin tapi tidak aku ketahui apa.

Dulu aku iri terhadap mereka yang masih memiliki ayah dan sampai sekarang bisa bersama ayahnya. Tumbuh besar bersama ayah dan ibu, bisa kapan saja berlaku manja, minta ini dan itu tanpa batas. Tapi percayalah ayah, kalau aku juga bahagia dengan kondisi seperti ini sekarang. Aku juga yakin ayah bahagia disana. Perasaan iri itu sudah hilang kini, berganti dengan keikhlasan dalam menghadapi kenyataan.

Lari pagi bersama ayah dulu adalah salah satu hal yang selalu ada dalam ingatan. Aku teringat dulu di kala aku capek aku meminta untuk digendong. Ayah tanpa mengeluh kemudian menggendongku dibelakang. Akupun tertawa sepanjang jalan mendengarkan ceritamu tentang apa saja di pagi itu.

Dan masih banyak kisah indah bersamamu walau begitu cepat kau pergi, walau kebersamaan kita hanya terbatas untuk sekian tahun yang membahagiakan itu.

Aku bahagia ayah. Aku akan menjaga ibu dengan segenap rasa hatiku. Ayah tenang aja disana. Semua pesanmu masih terpatri dihati ini.

dari anak seorang nelayan

Tunggu di situ, Aku sedang menujumu

Astaga! Aku baru teringat. Jalan yang sudah kulalui sejauh ini membuat aku harus berbalik arah kembali lagi. Aku semakin mempercepat langkah. Mendung gelap sudah tak tertahankan, mungkin dalam hitungan menit hujan lebat akan mengguyur kota ini tanpa ampun. Suasana mencekam, semua orang terburu-buru untuk segera sampai ketujuan. Tidak peduli apapun urusannya, setiap orang pasti berdoa semoga hujan turun sesaat mereka sudah sampai ke tujuan. Ya semoga hujan memang bisa mengertiin semua orang dibawah sini. Pas disaat jalanan kosong dan semua orang sudah berlindung, baru deh hujan boleh turun.

Oh Tuhan, hujan mulai turun rintik-rintik. Sepertinya hujan masih memberikanku kesempatan untuk sampai kerumah sebelum dia menumpahkan segala isinya. Aku sudah tidak tahan, aku segera berlari.
Tunggu disitu, aku sedang menujumu. Semoga aku bisa cepat sampai ke rumah dengan segera.

Akhirnya sampai juga di rumah. Hujan masih rintik-rintik bertahan, mendung juga masih gelap diatas sana. Aku masuk kedalam rumah, sepi tidak terdengar satu suarapun. Tidak lama kemudian diluar terdengar suara gemuruh, hujan telah turun dengan deras. Aku ucapkan rasa syukurku karena sempat sampai ke rumah sebelum hujan ini turun.
Aku langsung segera masuk ke kamar.

“ihh kan benar.” sewotku.

“Gara-gara jendela sialan ini aku pasti disemprot karena telat briefing.” gerutuku sampil menutup jendela dengan keras tanpa perasaan.

Kutemukan payung yang digantung dibelakang pintu. Dengan tergesa-gesa aku terpaksa menerobos hujan, kembali berjalan menuju ke kantor. Setelah beberapa menit aku berjalan,

“Astaga! kini pintu rumah lupa aku tutup” kagetku sambil menepuk jidat. Kututup payung, hujanpun mengguyur tubuhku. Sambil berbasah kuyup kembali berjalan balik kerumah. Niat kerjaku sudah hilang, hanyut dibawa air hujan yang mengalir masuk ke got.

Aku sampai di depan rumahku. kulihat pintu tertutup rapat, hmm mungkin tertutup karena tertiup angin. Ku pegang gagang pintu dan ku coba membukanya. Terkunci.

“Kok bisaaa?” teriakku kesel. Mimpi apa aku tadi malam sampai dikasih cobaan seperti ini gumamku.

Aku memasukkan tanganku kedalam kantong celana. Tidak kutemukan kunci rumah disitu, ku raba kantong kiri dan belakang celanaku. Tidak ada. wajahku pucat pasi.

“Kunciku hilaaanng!!!”

Jangan kemana-mana, di Hatiku saja

“Di saat ini – ingin kuterlena lagi, Terbang tinggi di awan tinggalkan bumi di sini”

“Di saat ini – ingin kumencipta lagi, kan kutuliskan lagu sambil kukenang wajahmu”

“Malam panjang, remang-remang. Di dalam gelap aku dengarkan syair lagu kehidupan”

——-

Kulantunkan sebuah lagu lawas Syair kehidupan. Petikan gitarku dan suara Dinda menghayutkan orang-orang yang khusuk mendengarkan. Terhayut dalam kisah masa lalu, mungkin cerita cinta waktu sekolah, kisah lama masa kuliah, atau sekadar terbayang kembali sebuah wajah yang telah lama terkubur dalam.
Wajah-wajah dengan tatapan kosong sekedar menatap gelas dihadapannya, secara perlahan tersenyum menandakan alam bawah sadarnya telah terhayut dalam suasana sahdu suara dinda.

Ku ulang lagu ini sampai dua kali agar para pendengar puas bisa mengekspresikan perasaannya dengan berbagai cara. Tidak ada yang berkata-kata, semua terdiam. Ada yang tersenyum, dan banyak yang termenung. Aku menganggukkan kepala kepada Dinda disebelahku agar mulai berdiri dan mulai ngider memungut receh sekedar Rp500,- atau Rp.1000,- pun kami sudah happy, maklum pekerjaan ngamen tidak memiliki target berapa yang harus kami bawa setiap malamnya.

Sementara Dinda memungut uang, kunyanyikan sebuah lagu penutup. Lagu yang menimbulkan nostalgia yang tak berkesudahan. Kuporsir semua perasaan dalam lagu ini agar semakin menimbulkan efek yang dalam bagi para pendengar. Aku yakin mereka yang berkunjung ke kafe ini adalah mereka yang mempunyai beribu cerita manis dan indah yang patut bisa dikenang melalui sebuah lagu.
Lagu “Semua bisa bilang” ku lantunkan dengan sedikit ceria.

“Kalau kau benar-benar sayang padaku
Kalau kau benar-benar cinta
Tak perlu kau katakan semua itu
Cukup tingkah laku”

“Sekarang apalah artinya cinta
Kalau hanya dibibir saja
Cinta itu bukan main-mainan
Tapi pengorbanan”

“Semua bisa bilang sayang, Semua bisa bilang
Apalah artinya cinta, tanpa kenyataan …”

=====

Diluar kafe sambil menikmati toh botol, aku dan Dinda mulai menghitung uang receh yang ada dalam bungkusan permen.

“Wah banyak sekali ya Din.” kataku pada Dinda, tidak ada pecahan Rp.1000,- paling kecil ada Rp.5000,- paling besar ada Rp.20.000,-.

“Kok tumben dapat banyak ya kak”, celoteh dinda kesenangan.

“Iya, itu karena kamu nyanyinya pake perasaan.” jelasku kepada si mungil ini.

Kemudian Dinda membolak-balikan bungkusan permen tempat uangnya. Secarik kertas kecil terjatuh. Dipungut oleh dinda kertas tersebut, dan dibuka lipatannya.
Ada tulisan tangan tertera disitu, dibaca dengan keras oleh Dinda.

“Aku sudah pernah mengatakannya kepadamu,
jangan kemana-mana, tetaplah berada dihatiku.
Tapi kau telah menolaknya.
Sekarang engkau bernyanyi disini, so sweet sih…
tapi bikin hatiku panas”

Dinda berlari kembali kedalam cafe. Dengan marah dia melihat satu persatu pengunjung cafe disitu. Aku menahannya “Sudah Din. Gak usah diperpanjang urusan ini.” aku memegang tangannya, juga sambil melihat sekeliling.
Tidak ada, tidak ada satupun orang yang aku kenal didalam sini. Ah mungkin dia sudah pergi setelah aku dan Dinda selesai bernyanyi tadi.

Aku menarik tangan Dinda dan dia menurut mengikutiku, satu tangan memegang gitar dan satu tangan lagi ku genggam erat tangannya. aku ajak dia berjalan menelusuri trotoar malam. Langit berbintang menyaksikan perjalanan muda mudi ini dalam mencari jati diri.

Tanpa sadar, sepasang mata menatap kepergianku dan Dinda dari parkiran. Di dalam mobil berkaca gelap, sambil mengusap matanya yang sendu, dia bergumam “Semoga bahagia.”

Bangunkan aku pukul 7

Selang infus tertusuk ditangan, selang oksigen menutupi hidung dan mulutnya, wajah sayu terbaring disana. Berbagai macam kabel saling terhubung dan berakhir disebuah layar kecil diatas tempat tidurnya. Bunyi suara tuuuttt panjang menandakan detak jantungnya telah berhenti. Tidak banyak yang bisa dilakukan suster dan dokter untuk membantu disaat darurat tadi. Karena hidupnya memang sudah divonis bisa bertahan untuk sampai beberapa hari saja. Dokter sudah memberitahukan kepada kedua orang tuanya mengenai perihal ini. Dengan kesabaran yang luar biasa mereka bisa menerima takdir yang sudah diberikan kepada anak tersayangnya.
Luki telah pergi, pergi berpulang ke Yang Maha Kuasa. Ayah dan ibunya dengan tegar menghadapi kenyataan yang terjadi. Hanya air mata yang menunjukkan gambaran betapa kasih sayang kedua orang tua kepada anaknya ini.
Aku terpaku disamping kanan jasadnya dengan linangan air mata. Aku melihat saat-saat kepergiannya, tanpa rasa dan tanpa nestapa, kini tinggal senyum yang tergores di bibirnya membuat aku menjadi tegar.
Aku memegang kelu kaku tangannya. Aku masih teringat kata-kata terakhirnya tadi subuh dini hari, setelah beberapa jam dia tidak bisa tertidur.

“Na ma ku luki, ta pi aku tidak se berun tung nama kuh, aku men cintaimu tapii…” katanyanya lirih kepadaku sambil terputus-putus dan tidak bisa menyelesaikan perkataannya karena aku potong dan meminta dia berhenti berbicara karena aku kasihan dengan kondisinya, hanya untuk berbicara saja dia merasakan sesak di dada.

“ssttt, jangan berkata begitu. Aku mencintaimu dan tidak pakai tapi. Aku akan selalu disini menjagamu” potongku sambil memegang lembut tangannya.

Diapun coba untuk tersenyum mendengarkan perkataanku itu.

“A ku akan ti dur kem bali.”

“Bangun kan a ku pu kul tujuh.” katanya lirih dekat sama kupingku.

Ahh ternyata tepat pukul tujuh, dia pergi meninggalkanku.

“Luki, bangun.. sudah pukul tujuh” kataku tertunduk sambil menggengam erat dingin tangannya.

“Sudahlah nak” ibunya coba menenangkanku.

“Ikhlaskan kepergiannya.” sambil mengelus kepalaku ibunya berusaha menjadi semakin tegar.

Menanti lamaran

Rendi adalah kekasihku. Kini dengan pasti aku akan meminta jawaban darinya segera, mengingat hubungan kita yang backstreet tapi kita sudah menjalaninya cukup lama. Aku mengerti jika kedua orang tuanya tidak menyenangiku dan bahkan jelas-jelas menolak keberadaanku, dan karena itu aku sudah pernah mengatakan kalau aku menyerah. Aku akan pergi dari kehidupanmu kataku saat itu. Tapi Rendi dengan yakin mengatakan, kalau dirinya sungguh masih mencintaiku dan memaksa aku untuk tetap bertahan. Ini hanya masalah waktu katanya sambil memelukku. Aku merasakan rasa cintanya yang dalam pada saat itu, pelukannya meluluhkan niatku untuk pergi meniggalkannya. Aku seolah mendapatkan kekuatanku kembali. Aku senang dia begini, dia telah menunjukkan kebenariannya kepada diriku yang lemah ini. Akupun sesungguhnya masih mencintainya. Aku akan meminta maaf padanya jika aku pernah mengatakan kalau aku akan pergi, karena aku tidak tahan dengan cemohan keluarganya. Entah apa yang salah pada diriku, atau aku pernah berbuat salah pada mereka? Entahlah, sepertinya aku juga mungkin perlu instrospeksi diri.

Walaupun hubungan kita hanya sebatas backstreet. hubungan adalah tetap sebuah hubungan, aku yakin dengan ini. Aku berharap di setiap berhentinya hujan akan selalu ada pelangi, Aku berharap di setiap rintangan yang datang, akan datang jawaban pada satu waktu nanti.
Tapi sampai kapan aku harus begini? menunggumu dalam siang dan malam, menanti yang tidak pasti. Aku harus katakan inilah waktu terbaik baginya untuk mengatakan kepadaku.

“Lamarlah diriku ren, aku menunggumu.” kataku di sela-sela gemuruh ombak. “Aku menunggumu disetiap terbit matahari, aku menantimu di setiap pasang dan surutnya ombak ini.” kataku dengan puitis.

“Kamu harus memutuskan sebaiknya bagaimana. Apakah kita sebaiknya lari saja?. Semua tergantung kamu, aku hanya bisa menunggu.” lirihku dengan mengharapkan suatu keputusan.

Rendi yang dari tadi terdiam akhirnya membuka suara.

“Aku sudah memutuskan, kita berangkat sore ini hen.” Jawab Rendi seolah memberikan sebuah harapan.

“Aku akan pulang dulu, packing beberapa pakaian. Nanti aku akan kembali menjemputmu.” katanya sambil memelukku.

Ah Rendi, sungguh perkataan inilah yang sudah lama aku nanti. Dalam pelukannya kini aku terhayut dalam mimpi indah hidup bersamanya.

Rendi beranjak pergi meninggalkanku. Aku bahagia melihatnya pergi, karena dia akan kembali untuk membawaku bersamanya.
Ku pandangi foto-foto di dinding. Semua akan kuturunkan dan kubawa bersama, kebanyakan fotoku berdua bersama Rendi.
Diantara berbagai macam foto ada satu pigura bergambar kapal layar yang dibawahnya ada tulisan nama kita berdua. Dengan tulisan cantik disitu tertulis “Rendi dan Hendrik”.