Pagi pertama di Jakarta setelah sekian tahun menghilang dengan berbagai alasan, aku mencoba untuk kembali ke tempat dulu, kampus dimana aku pernah belajar. Sungguh udara panas pagi yang aku hirup bercampur dengan debu deru mobil, motor dan berbagai macam angkutan tidak mengurangi sentuhan perasaanku yang pernah ada dulu.
Sebentar saja aku masuk dalam pelantaran parkir kampus dan kemudian menuju keluar gerbang kampus kembali. Aku ingin menyamakan timing hati dan rasa, seolah-olah memang aku sedang selesai kuliah dan ingin pulang ke rumah seperti pernah terjadi dulu. Sungguh suatu rasa yang tidak terpikirkan sebelumnya. Aku… hatiku, sungguh bergetar saat ini, perasaan rindu akut keluar dari hati ku yang paling dalam. Aku ingat kembali tempat dimana aku sering bersama dengan dia, tempat dimana aku pertama kali bertemu dia, tempat dimana pertama kali dimana aku menyampaikan cinta, tempat dimana dia menjanjikan akan menjawabnya, tempat dimana kita dulu pernah bertengkar hebat, tempat dimana aku menelpon dia untuk meminta maaf, tempat dimana kita sering mengumbar tawa dan rasa, tempat dimana aku sering menunggunya untuk pulang, dan terakhir tempat dimana dulu aku… aku … meninggalkannya…
Aku tidak stay di Jakarta, aku dari tempat yang jauh disana dipelosok Sumatra. Aku sangat jarang untuk bisa datang berkunjung ke Ibukota, jadi setiap ada kesempatan datang aku selalu berusaha napak tilas tempat-tempat atas sesuatu yang pernah ada dulu dan kini telah hilang. Ya dia telah hilang sejak bertahun yang lalu. Sejak aku meninggalkannya di saat terakhir kali aku melihat dirinya, dia menahan sesuatu beban yang serasa berat untuk dihadapi. Aku meninggalkannya seorang diri disana. Keputusan yang kuambil mungkin menyakitkan tapi sesuatu telah terjadi dan aku harus tetap untuk mengambil keputusan yang sangat berat untuk aku jalankan.
Aku menyesal sungguh aku menyesal, tapi aku tetap bertahan dengan pilihan yang ada sekarang. Aku menyesal dan bersyukur dengan apa yang telah terjadi. Sesuatu yang mungkin sulit untuk dipahami, atau sesuatu yang memang tidak lazim terjadi.
Apapun dan bagaimanapun, aku minta maaf atas ke-egoisanku sampai saat ini. Karena aku tidak bisa melupakan, aku masih mencintai walau hanya berupa kenangan, bukan kenyataan…
Kini terulang kembali kisah itu. Aku dalam dilema panjang tak berkesudahan. Drama yang terjadi dengan mengacuhkan kenyataan yang ada. Bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun, cerita sulit untuk di teruskan karena beban berat yang disandang.
Aku menatap polos kedepan, bingung memandang langit malam kesepian. Garis cintaku rumit, aku yang membikin kerumitan-kerumitan itu semua.
lolypop always sweet forever®






