aku teringat dengan kejadian dimana waktu aku berumur 4 atau 5 tahun… disaat itu adalah kejadian pertama aku melihat dan merasakan indahnya berada di bawah permukaan air laut. aku tidak takut akan tenggelamnya diriku karena aku sangat menikmati warna-warni didalam air tsb, aku menikmati dengungan suara yang menurutku berirama. pandangan mataku terbuka menjelaskan bahwa diriku seperti didalam dunia yang lain. dominan warna hijau dan sedikit biru kala otakku kini mengingat saat-saat rasa mataku menerawang.
kala itu aku duduk di tangga pelantar panjang yang ada di dekat rumahku, sebuah rumah pelantar istilah orang kepulauan mengatakannya. laut adalah hal biasa buat diriku. disaat aku bangun tidur aku bisa melihat hijau atau birunya lautku itu, tergantung cuaca hari itu bagaimana. waktu mau tidurpun aku masih bisa nyempatin memandang kelautku itu lagi. aku ditakdirkan lahir dari sebuah rumah atau pondok kalau bisa dikatakan pondok, yang berdiri diatas pelantar, persis ditengah-tengah perlantar itulah letaknya. rumah atau gubuklah yang beratap jerami atau atap daun-daunan kelapa yang merupakan standar rumah seorang nelayan. rumah yang berdinding papan. aku rindu saat-saat berada dalam rumah itu. tapi sayangnya, tidak banyak kenangan yang bisa aku ingat. karena entah kenapa aku juga tidak mengingatinya… apa aku hanya 5 atau 6 tahun aja stay disitu sehingga aku tidak bisa mengingat kenangan sejak aku dari bayi… paling gak sampai umurku tiga tahun juga tidak bisa aku ingat lagi. jadi wajar sungguh singkat kenangan yang bisa aku perjuangkan untuk mengungkapkan perasaaku ini. aku anak seorang nelayan, sang nelayan itu papaku disaat itu mulai berusaha mau merubah nasib dan peruntungannya dengan tidak menjadi seorang nelayan lagi. dia telah mendapatkan pekerjaan buruh sebagai tukang cat dan tukang las di sebuah perusahan pergalangan kapal yang sampai saat ini perusahan itu masih exist. papaku telah berusaha merubah image seorang nelayan yang secara turun menurun diturunkan dari buyut, kakek dan papa nya papaku tentunya. praktis segala ilmu kenelayanan dan segala hubungan kemampuan teknis seorang nelayan terputus sampai ke papaku saja. aku hanya diberikan cerita dan kenangan yang selalu diceritakan papaku tentang hingar bingar kehidupan nelayan, layak lagu yang sering aku dengar disaat sekolah sd dulu, “nenek moyangku orang pelaut, gemar mengarung luas samudra, menerjang ombak tiada takut, menempuh badai sudah biasa.. angin bertiup layar terkembang na na na na (aku gak ingat lagi deh:D) “. aku dulu hanya dibekali teknis kehidupan standar, hanya kemampuan renang yang sempat papaku ajarkan. disaat umurku diatas 7 tahun, kita malah sudah pindah rumah semakin ke tengah daratan jauh dari bibir pantai. jadi sejak saat itu, total perubahan kehidupan keluarga nelayan telah berubah menjadi kehidupan sebuah keluarga apalah namanya hmm keluarga perkotaan, tapi pada saat itu kotaku kini belum menjadi sebuah kota saat itu, karena masih banyak hutan….
papaku membayar mahal untuk apa yang dia rubah dan perjuangkan. papaku meninggal dunia disaat aku smp kelas satu atau dua. dia terkena something di paru-parunya. sakit yang dia dapatkan dari tempat kerjanya. informasi yang aku dapatkan adalah bahwa kerjaannya sebagai tukang las dan pengecatan pakai semprot (ada istilahnya, tapi aku lupa) yang disaat itu tidak memadai safty nya. kadang hanya melilitkan handuk atau bajunya saja untuk menutup hidung dan mulutnya. sungguh standar safty yang jelek dari sebuah perusahaan internasional. tapi kini tentu tidak ada lagi perusahan yang mengindahkan safty karyawannya. tentu akan ditindak jika ada laporan dari karyawan tersebut atau dari siapa aja. hampir tiga tahun papaku sakit dan praktis tidak kerja walau masih digaji oleh perusahaannya. bolak-balik jakarta ke sini untuk control penyakit paru-parunya. batuk darah adalah hal yang sering aku lihat disaat akhir hidupnya. hampir 6 bulan terakhir dari hidupnya, pernafasannya di bantu dengan tabung oxigen, yang disaat itu adalah tabung besi setinggi orang dewasa. disaat pergantian tabung harus dengan cepat di proses, karena kalau gak tentu papaku kesulitan bernafas. so bisa kebayang kalau saat itu adalah hal-hal tersulit dalam keluarga kami. disaat banyak orang dewasa atau saudaraku, pergantian itu bisa dilakukan dengan mudah. tapi disaat tidak ada orang lain, tentu aku yang saat itu masih kelas satu smp yang akan melakukannya. aku melakukannya dengan stress dan gugup. aku kasihan lihat papaku menunggu aku melakukannya, yang jelas aku melakukannya lebih lama dari orang dewasa. kadang aku takut sama papaku saat itu karena kadang sempat kelihatan dia mau marah karena kelambatanku walau dia akhirnya tidak marah karena dia mencoba bertahan dengan segala siksaan karena keterlambatanku itu. mungkin disaat itu dia mengerti dengan keterbatasanku untuk melakukan itu semua. akhirnya suatu hari disaat aku pergi kemasjid pada hari jumat untuk melakukan sholat jumat. sebelum sang kothbah memberikan kothbahnya datang tetanggaku menghampiri duduk bersilaku. dia meminta segera aku untuk pulang dengan alasan ada sesuatu yang penting. aku saat itu tidak terlalu terbayang apa yang akan terjadi, tapi aku mengikutinya pulang. sampai dirumah, aku melihat papaku sudah menutup mata meninggalkan kami sekeluarga ditengah siang jumat. semoga ayahku diberikan tempat yang terbaik di sisi Allah Subhana Wataalah…
kembali jauh ke kehidupanku dipelantar, disuatu siang aku melihat beberapa remaja atau orang dewasa bermain dilaut, berenang dan menyelam di seberang pelantarku. aku suka dengan kejadian itu. aku tertarik melihatnya semakin dekat. aku duduk didekat tangga pelantar, tanpa takut aku turun satu atau dua tingkat di tangga itu dengan posisi duduk. aku memandang mereka bermain. bagaimana kejadiannya aku tidak ingat, kemudian aku terjatuh ke dalam laut yang dalam untuk ukuran tubuh mungilku. aku tenggelam, aku merasakan kepalaku dibawah permukaan air laut. aku menikmatinya, aku tidak teriak. mulutku bisu, mataku terbuka menerawang semua yang bisa aku pandang, dominan hijau kebiruan sejauh mataku memandang, sungguh pengalaman yang tidak bisa aku lupakan. aku bagai dalam ruang hampa udara dengan kilau dan siluet gabungan warna cerah hijau dan biru, aku terpana aku terpesona. dalam diam dan pasrahku kemudian ada satu tangan yang mengangkatku keatas pelantar lagi. ternyata aku ditolong oleh orang-orang yang bermain di laut tadi. setelah itu aku tidak ingat apa yang terjadi selanjutnya. sungguh kehidupan didalam laut menjadikan aku cinta pada laut, kedalaman laut, arti laut. lautku indah lautku bergelora… kini dengan hidupku ala perkotaan, aku masih suka menyendiri datang ke pinggir pantai sekadar bermain air, atau mendengarkan deru ombak dan semilir angin. tulisan ini aku tulis di pinggir pantai ditemanin gulungan ombak nakal dan angin yang kencang dalam hati yang galau. aku tetaplah seorang anak nelayan… aku adalah orang laut, suatu hari nanti aku akan kembali kesana…
lov my dad…:*
lolypop always sweet ¤Corp®