“Aku mengahwinimu tapi aku tidak pernah bisa memiliki hatimu”.
Ini sepenggal kalimat terakhir yang keluar dari mulut Yang Dingtian, ketua perkumpulan Ming pada saat itu dalam cerita “Dragon Sabre and Heavenly Sword”. Kata-kata terakhir ini diucapkan sesaat sebelum dia menghembuskan nafas terakhir, sebelum dia memergoki istri yang dicintai memadu kasih dengan kakak seperguruan istrinya sendiri. Cinta kepada istrinya yang besar membuat kekecewaan dan keterpurukan semakin sakit melihat penghianatan yang tidak bisa dipungkiri lagi. Dengan kedua bola matanya Yang Dingtian menyaksikan hal yang paling memilukan selama hidupnya.
Sambil menatap nanar tajam kedepan, mukanya merah menahan amarah. Dia tidak sanggup untuk melampiaskan kemarahan atau sekadar menampar sang istri yang dicintai. Sang istri menangis menyesali perbuatannya sambil menyembunyikan Cheng Kun sang kakak seperguruan di belakang tubuhnya yang ramping, Cheng Kun yang sedang ketakutan karena marah sang pendekar.
Yang Dingtian tidak menyorot tajam kepada Cheng Kun, seolah dia tidak pernah menganggap ada sosok orang ketiga dalam rumah tangganya. Dia hanya menatap tajam kepada istrinya, dia merasa kecewa yang sedalam-dalamnya kepada istri yang dicintainya ini. Dia tidak menyangka sang istri tega berbuat hina dina dan mengkianati cintanya. Dikemposkan ilmu tenaga dalam sampai di atas ambang kewajaran. Dari mata keluar airmata merah mengalir jatuh ke pipi sebagai tanda kekecewaan yang mendalam. Darah keluar dari mata akibat luka dalam yang sengaja dibuat. Dia mengakhiri hidup di depan istrinya. Dia kecewa dan tewas dalam keadaan berdiri. Sang pendekar ketua Sekte Ming telah pergi selamanya, menyimpan luka yang dibawa mati.
Sang istri menangis mengharu biru, menyesali apa yang telah diperbuat. Kepada suaminya dia begitu mencintai, dan kepada Cheng Kun dia menyayangi sepenuh hati. Sesungguhnya Cheng Kun kakak seperguruannya itu adalah cinta pertamanya dari sejak kecil dulu.
Dalam kekalutan dia menyesal semua yang telah terjadi. Kepada Cheng Kun, dan di depan jasad Dingtian yang kokoh kaku, dia berkata dalam kesedihan “Walau aku tidak membunuh, tapi aku merasa akulah penyebab kematiannya”
Dengan memegang sebuah belati di tangan, dia menusukkan benda tajam itu ketubuh sendiri, tembus menusuk jantung. Seketika dia terbaring di tanah di hadapan jasad beku Dingtian yang masih gagah berdiri. Sang istri tewas seketika, sebuah roh terbang menyusul sang suami untuk permintaan maaf.
Tinggal Cheng Kun bersedih melihat kepergian kekasih hati yang ternyata memutuskan untuk pergi bersama suaminya, meninggalkan dunia fana. Kemarahan bertubi-tubi berkecamuk di dalam hatinya, sambil memegang jasad adik seperguruan, dia menatap murka ke jasad Yang Dingtian.
“Kenapa…? Kenapa…?”.
“Yang Dingtian, kau berkata bahwa engkau bisa mengahwini adik seperguruanku, tapi tidak bisa memilikinya hatinya”.
“Dan aku… Aku mendapatkan hatinya, tapi aku tidak pernah punya kesempatan untuk hidup bersamanya”, lirihnya halus dalam isak tangis.
======================
Diceritakan kembali dari kisah serial “Heavenly Sword and Dragon Saber 2009 – Episode 15”. Diterjemahkan dengan sedikit penambahan atau pengurangan sesuai dengan pemahaman.
bth, 11 juni 2013








