Kepada ibu,
Ibu yang sangat mulia dalam hatiku, sesungguhnya wanita yang paling mulia dimuka bumi adalah ibu yang nomor satu. Tanpamu aku tiada, tanpa kasih sayangmu aku akan terluka, terkoyak di makan zaman. Pengorbananmu tak terlukiskan, tak sanggup di ungkap hanya dengan sekadar rangkaian kata-kata. Terlalu kecil jika cerita mulia hidupmu untuk kutuliskan disini. Wajarlah jika dikatakan bahwa Surga berada ditelapak kaki ibu. Artinya aku harus tetap sujud dan hormat kepadamu di tempat paling rendah dibawah kakimu. Pengambaran penting dari Tuhan, bahwa selain amal-amalmu yang lain- jangan pernah menghardik, marah dan durhaka kepada ibu. Karena tiada arti semua amal dan kebaikanmu dimuka bumi ini jika kita mengabaikan orang yang melahirkan kita.
Aku mengerti, di saat ibu berusaha melahirkan aku kemuka bumi ini. Ibu mempertaruhkan semuanya, bahkan nyawa. Tidak berani aku untuk mengatakan tidak kepadamu ibu sampai saat inipun. Sebisa selama nafas masih berhembus, jam berapapun dan langit dalam terang ataupun gelap, aku akan sedia selalu megantarmu kemanapun ibu mau pergi. Kadang di dalam ketidakbisa-anku pun, aku memberitahumu dengan halus bahwa aku tidak bisa saat ini. Aku takut jika ketidakbisa-anku terdengar hanya sebagai alasan bagimu. Tidak ibu, aku pasti mengantarmu setelah aku meyelesaikan pekerjaanku ini.
Di saat menulis surat ini, kuteringat masa-masa kecilku bersamamu. Di dalam ketidaksadaranku di saat aku dulu nakal, engkau selalu sabar mengurusku dalam senyum dan tawa. Ibu selalu menjadi orang pertama yang melindungiku jika ada yang mengusikku dulu, Ibu yang pertama ketakutan di saat aku terjatuh- begitu cemasnya dirimu, ibu rela basah dalam hujan hanya untuk melindungi kepala dan tubuhku di saat hujan turun waktu kita kehujanan, ibu selalu ingat akan diriku jika pergi ke-kondangan, selalu ada kue atau sekadar buah yang ibu bawakan untukku. Kadang ibu rela tidak makan disana karena hanya ingin membawakan sesuatu kepadaku dulu. Ibu yang menemaniku mengerjakan pr dan mengajarkan kepadaku pelajaran yang tidak kupahami, padahal kadang aku melihat ibu tidak mengerti, tapi ibu selalu berusaha mencaritahu untuk menyelesaikan soal. Di saat aku beranjak remaja, ibu menjadi tempat keluh kesahku, dan tanpa canggung kadang aku mengadu kepadamu kalau aku telah jatuh cinta. Itu semua cerita dulu, cerita indah di saat aku kecil hingga remaja masa sekolah.
Ibu cantik, aku mengingat setiap garis wajahmu, wajar jika ayah begitu mencintaimu. Aku mengingatmu dengan jelas. Sekarang ibu beda, zaman yang beranjak senja membawa perubahan disetiap mahkluk ciptaan Tuhan, termasuk aku dan ibu tentunya. Ibu kini sudah menua, rambut memutih dan bergerak pelan. Tapi bagiku, ibu selalu cantik. Ibu cantik selamanya tidak akan lekang dimakan zaman, terpatri dalam darah dan sanubariku.
Sekarang, aku ingin membahagiakan ibu. Memberikan kehidupan yang sangat berarti kepadamu ibu. Aku tidak ingin ibu merasakan kekosongan dalam hidup ini. Kesetiaan ibu kepada ayah untuk tidak pernah menikah lagi setelah kepergian ayah memberikan pelajaran kepadaku tentang arti kesetiaan dari satu sisi. Tapi aku tidak pernah menyalahkan jika ada ibu-ibu yang lain, atau bahkan ibu sendiri menyatakan ingin menikah lagi. Kesetiaan itu kondisional dan tidak untuk saling menyakiti.
Akan kulakukan semua keinginannmu ibu, apapun itu. Katakanlah apa saja permintaan ibu. Nanti sore pulang kerja aku akan memelukmu ibu. Aku ingin merasakan kehangatan dan mengingat masa-masa dulu, aku ingin bermanja denganmu barang sesaat.
Sekian ibu surat singkat ini, surat yang hanya bisa memuat sedikit dari ribuan kebaikan dan pengorbananmu atau jutaan tak terhitung lagi. Aku tak sanggup mengganti dengan apapun, yang bisa kulakukan adalah ingin membuat dirimu selalu tersenyum dan bahagia. Ampunkan segala dosaku ibu jika selama ini segala perbuatanku menyakitimu, tidak berkenan dihatimu. Walau senyum selalu mengembang di bibirmu tapi aku takut dalam hatimu ada perih yang aku tidak ngerti. Karena aku tahu kalau ibu sangat pintar dalam menyembunyikan sesuatu rasa kepadaku. Katakanlah ibu apa kekuranganku atau apa maumu sehingga tidak ada sedih dihatimu kecuali senyum dan bahagia yang tersisa.
Dengan cinta,
Tedi
*surat#26*30harimenulissuratcinta*