“Di saat ini – ingin kuterlena lagi, Terbang tinggi di awan tinggalkan bumi di sini”
“Di saat ini – ingin kumencipta lagi, kan kutuliskan lagu sambil kukenang wajahmu”
“Malam panjang, remang-remang. Di dalam gelap aku dengarkan syair lagu kehidupan”
——-
Kulantunkan sebuah lagu lawas Syair kehidupan. Petikan gitarku dan suara Dinda menghayutkan orang-orang yang khusuk mendengarkan. Terhayut dalam kisah masa lalu, mungkin cerita cinta waktu sekolah, kisah lama masa kuliah, atau sekadar terbayang kembali sebuah wajah yang telah lama terkubur dalam.
Wajah-wajah dengan tatapan kosong sekedar menatap gelas dihadapannya, secara perlahan tersenyum menandakan alam bawah sadarnya telah terhayut dalam suasana sahdu suara dinda.
Ku ulang lagu ini sampai dua kali agar para pendengar puas bisa mengekspresikan perasaannya dengan berbagai cara. Tidak ada yang berkata-kata, semua terdiam. Ada yang tersenyum, dan banyak yang termenung. Aku menganggukkan kepala kepada Dinda disebelahku agar mulai berdiri dan mulai ngider memungut receh sekedar Rp500,- atau Rp.1000,- pun kami sudah happy, maklum pekerjaan ngamen tidak memiliki target berapa yang harus kami bawa setiap malamnya.
Sementara Dinda memungut uang, kunyanyikan sebuah lagu penutup. Lagu yang menimbulkan nostalgia yang tak berkesudahan. Kuporsir semua perasaan dalam lagu ini agar semakin menimbulkan efek yang dalam bagi para pendengar. Aku yakin mereka yang berkunjung ke kafe ini adalah mereka yang mempunyai beribu cerita manis dan indah yang patut bisa dikenang melalui sebuah lagu.
Lagu “Semua bisa bilang” ku lantunkan dengan sedikit ceria.
“Kalau kau benar-benar sayang padaku
Kalau kau benar-benar cinta
Tak perlu kau katakan semua itu
Cukup tingkah laku”
“Sekarang apalah artinya cinta
Kalau hanya dibibir saja
Cinta itu bukan main-mainan
Tapi pengorbanan”
“Semua bisa bilang sayang, Semua bisa bilang
Apalah artinya cinta, tanpa kenyataan …”
=====
Diluar kafe sambil menikmati toh botol, aku dan Dinda mulai menghitung uang receh yang ada dalam bungkusan permen.
“Wah banyak sekali ya Din.” kataku pada Dinda, tidak ada pecahan Rp.1000,- paling kecil ada Rp.5000,- paling besar ada Rp.20.000,-.
“Kok tumben dapat banyak ya kak”, celoteh dinda kesenangan.
“Iya, itu karena kamu nyanyinya pake perasaan.” jelasku kepada si mungil ini.
Kemudian Dinda membolak-balikan bungkusan permen tempat uangnya. Secarik kertas kecil terjatuh. Dipungut oleh dinda kertas tersebut, dan dibuka lipatannya.
Ada tulisan tangan tertera disitu, dibaca dengan keras oleh Dinda.
“Aku sudah pernah mengatakannya kepadamu,
jangan kemana-mana, tetaplah berada dihatiku.
Tapi kau telah menolaknya.
Sekarang engkau bernyanyi disini, so sweet sih…
tapi bikin hatiku panas”
Dinda berlari kembali kedalam cafe. Dengan marah dia melihat satu persatu pengunjung cafe disitu. Aku menahannya “Sudah Din. Gak usah diperpanjang urusan ini.” aku memegang tangannya, juga sambil melihat sekeliling.
Tidak ada, tidak ada satupun orang yang aku kenal didalam sini. Ah mungkin dia sudah pergi setelah aku dan Dinda selesai bernyanyi tadi.
Aku menarik tangan Dinda dan dia menurut mengikutiku, satu tangan memegang gitar dan satu tangan lagi ku genggam erat tangannya. aku ajak dia berjalan menelusuri trotoar malam. Langit berbintang menyaksikan perjalanan muda mudi ini dalam mencari jati diri.
Tanpa sadar, sepasang mata menatap kepergianku dan Dinda dari parkiran. Di dalam mobil berkaca gelap, sambil mengusap matanya yang sendu, dia bergumam “Semoga bahagia.”