[BeraniCerita #2] Tidak peduli

“Dengarinlah lisa. Tolong dengarkan dengan serius, untuk sekali iniii saja.” pintaku kepadanya sambil ku-elus lembut punggung putih yang halus ini.

“Setelah itu kamu putuskanlah yang terbaik buat dirimu, mau pergi atau tetap stay disini bersama aku.” jelasku tegas.

“Aku tidak peduli jika mungkin kamu tidak menyukaiku, yang penting kamu tahu kalau aku suka kamu, suka dengan manja kamu”.

“Aku tidak peduli jika kamu suka cuek kepadaku. Kadang omonganku seperti angin lalu bagi dirimu. Kamu sama sekali tidak perhatian dan suka sibuk sendiri”

“Aku tidak peduli kamu mau tidur dimana saja, mau di kasurku, atau di sofa? terserah kamu. Pokoknya kembalikan semangatmu dan aku janji akan selalu bersamamu.”

“Aku tidak peduli aku seperti orang gila yang berbicara sendiri, sedangkan dirimu suka berdiam diri sekarang.”

“Hei lihat aku.” sambil memegang kedua pipinya ku paksa dia untuk menatapku. “Maukah sekali ini saja kamu turuti kata-kataku, lupakanlah masa lalumu” lanjutku kepadanya.

“Meong.. meong” jawab lisa seolah mengatakan kepadaku kalau dia lagi malas, kemudian menunduk sayu kembali.

Akupun menarik nafas panjang, mencoba mengerti-in lisa. Kehilangan anak, mungkin menjadi pukulan terberat bagi se-ekor ibu kucing.
Aku tidak perduli apa kata orang terhadap sikapku kepadanya. Aku hanya bersimpati kepada mahkluk kaki empat ini setelah mendapatkan musibah kehilangan anaknya.

———————–
bth, 14 feb 12

“Flash Fiction ini disertakan dalam Giveaway BeraniCerita.com yang diselenggarakan oleh Mayya dan Miss Rochma.”

[BeraniCerita #1] Lipstick merah

Hatiku berdegup kencang. Entah dosa apa yang aku perbuat kemarin. Kenapa barang itu ada di dalam tas kerjaku. Kenapa lisa lupa mengeluarkan barangnya. Matilah aku, jika sempat ketahuan kalau barang itu ada di dalam tasku, habislah sudah.

Kemarin sore setibaku di rumah, sewaktu lagi mengeluarkan laptop untuk kugunakan, ku temukan lipstik merah di dalam tas ini. Aku berpikir panjang, kira-kira lipstik siapa ini kok bisa nyasar ke dalam tasku. Terlintas wajah melankolis lisa sesaat. Lipstick merah ini pasti miliknya. Dia meminta tolong untuk menumpang beberapa dokumen yang akan dia bawa pulang untuk di kerjakan di rumah. Sebagian dia tenteng, sebagian lagi di masukkan ke dalam tasku. Tapi tidak kusangka kalau lipstik merah ini juga miliknya. Rumah kami yang satu jurusan membuat kita sudah terbiasa saling membantu.
Ku buka tutup lipstick merah itu, ku putar bagian bawahnya, ujung lipstick pun mulai muncul keatas. Kudekatkan kehidungku, hmm bau sesuatu yang tidak bisa aku ungkapkan. Wanita memoles ini di bibirnya, gumamku. Tak habis berpikir kenapa wanita bisa bertahan dengan goresan lipstick hanya demi penampilan dan kepercayaan diri.
Besok pagi-pagi sekali aku akan mampir ke meja kerjanya untuk mengembalikan barangnya ini.

lipstickmerah

“Ini lipstick siapa pah?” istriku mulai bertanya curiga setelah dia menggeledah isi tas kerjaku.

“Anu, it itu punya lisa, tadi dia meminta tolong untuk membawakan beberapa dokumen.” jelasku gemetaran.

“Hmm mamah gak tau deh kalau lipstick itu termasuk dokument ya..? tembak istriku seakan memojokkan jawaban bodohku.

“Iya mah kalau gak percaya telpon aja lisa deh tanya langsung.” jawabku lurus mencoba menguasai keadaan.

Sejurus kemudian istriku keluar dari ruang kerja. Kulihat dia menelpon seseorang. Aku rasa dia pasti menelpon lisa mencari tahu kebenaran tentang lipstick itu. Kulihat dia berbincang serius sambil sesekali melirik ke arahku.

“Itu bukan milik lisa. Dia tidak suka warnah merah menor gitu katanya. Dia bilang sebelum memasukkan dokumen memang sudah melihat lipstik itu didalam tas papah.” kata istriku mulai habis kesabaran.

Aku terdiam tidak tahu berkata apa-apa. Akupun tidak tahu kalau lisa akan menyangkal. terlebih lagi aku tidak tahu lipstick siapa yang ada didalam tasku ini.

“Papah terlalu!” hardik istriku sambil menangis pergi ke kamar menginggalkanku sendiri di ruangan kerja.

Aku terdiam memikirkan apa yang terjadi sesungguhnya. Aku tidak bisa berdebat. Bukan tipeku berdebat apalagi debat kepada istri sendiri. Aku berpikir lipstick siapa yang bikin heboh rumah tanggaku ini.

Tiba-tiba istriku muncul kembali, aku terdiam. Kemudian dia berjalan kearah belakang tempat dudukku. Dia menjatuhkan tangannya keatas dada ini. Dia menunduk memelukku, kepalanya muncul di samping kanan kupingku.

“Pah, maafkan mamah ya. Itu lipstick mamah, ingat dua hari yang lalu kita ke kondangan langsung dari kantor papah. Mamah lupa telah memasukkan lisptick ini ke dalam tas kerja papah” bisik istriku mengakhiri drama menyebalkan ini.

Ku pegang tangannya yang memelukku. “Istriku… Cemburumu bikin papah semakin sayang kepadamu, please letakkan barang pada tempatnya ya.” ejek mesraku kepadanya.

———————–
bth, 12 feb 12

“Flash Fiction ini disertakan dalam Giveaway BeraniCerita.com yang diselenggarakan oleh Mayya dan Miss Rochma.”

Cut!

“Cut!” teriak sang sutradara menandakan bahwa pengambilan gambar untuk section ini selesai.

“Ayo semua istirahat, lima belas menit lagi kita continue.” sambungnya dengan semangat sambil turun dari kursi yang berkaki tinggi.

Laki-laki muda bertopi hitam ini dengan serius membaca naskah selanjutnya sambil mengepulkan asap rokok kesamping. Kadang tertawa sendiri dan kadang menyeringai menandakan bahwa dia benar-benar menghayati tulisan yang ada di kertas itu. Kemudian dari kejauhan terdengar derap langkah kaki datang menghampiri.

“Mas, maaf aku datang terlambat. Anu tadi mobil yang kutumpangi mogok, jadi aku lama mencari mobil lagi untuk kesini.” kataku takut. Dengan nafas ngos-ngosan mencoba untuk menjelaskan keterlambatanku.

“Indri, ini bukan yang pertama kali kamu telat begini.” katanya tanpa menoleh sedikitpun ke arahku

“Maaf, peranmu sudah kugantikan sama orang lain. maaf aku tidak bisa membantu lagi.” sambungnya kembali dengan tegas.

Dengan muka merah aku mencoba menjelaskan, karena keterlambatan kali ini beneran karena mobil yang kunaiki itu mogok.

“Please mas Bagas, jangan begitu dong. aku janji besok aku akan datang lebih cepat dari schedulle. Beneran ini karena mobilku itu mogok.” mohonku kepada sutradara yang bernama Bagas ini.

“Tidak ndri, aku tidak bisa mentolerir siapa saja yang suka telat.”

“Coba kamu bayangkan, ada empat orang saja yang seperti kamu aku bisa hancur, filmku amburadul.” sambil berdiri menatapku dia coba berlaku tegas.

“Sudah kamu pulang saja, cari kesempatan yang lain, maafkan aku tidak bisa membantu.” sambungnya kemudian kembali duduk tanpa merasa kasihan.

Indri yang berdiri menatap tajam Bagas. Perlahan suara isak tangisnya memecah di ruangan. Bagas sangat tidak berprikemanusiaan, dalam hati dia berkata. Setelah semua telah dia berikan pada waktu casting sebulan yang lalu, sekarang begini bayaran yang dia dapatkan. Dibuang.
Banyak mata memandang adegan ini, beberapa crew yang ada dan para pemeran masih banyak yang berada di lokasi. Mereka semua terdiam pura-pura tidak tahu tapi mendengarkan.
Bagas masih membaca dan tidak menganggapku lagi. Dia seolah tidak mendengarkan tangisku, dadaku sesak, marahku sudah diubun-ubun. Secara perlahan tanganku masuk kedalam tas yang aku bawa. Sebuah pisau telah tergenggam ditanganku kini. tidak ada yang melihat dan Bagaspun masih cuek pura-pura membaca dan meniadakan keberadaanku.
Dengan sigap dan cepat langsung kutusukkan pisau ketubuhnya dari samping. Sebuah tusukan menembus pinggangnya.

“Akhh!” teriaknya kaget sambil terjatuh kesamping dari kursinya.

“Matilah kau! dasar laki-laki tak berperasaan” semprotku sambil manarik pisau dari pinggangnya.

“Indri! gila kamu! apa yang kamu lakukan.” katanya sambil kesakitan menutup luka yang terkoyak dengan tangannya.

“Tolong! tolong!” teriaknya kepada orang-orang yang masih berada disitu.

“Jangan ada yang berani mendekat!” kataku dengan mata nanar menahan marah. “Pergi kalian dari sini, pergi!” teriakku sambil mengusir beberapa crew yang mencoba menghentikan tindakanku.

“Pergi!” kali ini aku sambil menyabetkan pisau ke depan kearah mereka yang mencoba melumpuhkanku.

“CUT!” teriak sang sutradara sambil bertepuk tangan terhadap adegan yang baru dilakukan. Sepertinya dia merasa puas setelah lima kali mengulang adegan yang sama ini.

Tunggu di situ, Aku sedang menujumu

Astaga! Aku baru teringat. Jalan yang sudah kulalui sejauh ini membuat aku harus berbalik arah kembali lagi. Aku semakin mempercepat langkah. Mendung gelap sudah tak tertahankan, mungkin dalam hitungan menit hujan lebat akan mengguyur kota ini tanpa ampun. Suasana mencekam, semua orang terburu-buru untuk segera sampai ketujuan. Tidak peduli apapun urusannya, setiap orang pasti berdoa semoga hujan turun sesaat mereka sudah sampai ke tujuan. Ya semoga hujan memang bisa mengertiin semua orang dibawah sini. Pas disaat jalanan kosong dan semua orang sudah berlindung, baru deh hujan boleh turun.

Oh Tuhan, hujan mulai turun rintik-rintik. Sepertinya hujan masih memberikanku kesempatan untuk sampai kerumah sebelum dia menumpahkan segala isinya. Aku sudah tidak tahan, aku segera berlari.
Tunggu disitu, aku sedang menujumu. Semoga aku bisa cepat sampai ke rumah dengan segera.

Akhirnya sampai juga di rumah. Hujan masih rintik-rintik bertahan, mendung juga masih gelap diatas sana. Aku masuk kedalam rumah, sepi tidak terdengar satu suarapun. Tidak lama kemudian diluar terdengar suara gemuruh, hujan telah turun dengan deras. Aku ucapkan rasa syukurku karena sempat sampai ke rumah sebelum hujan ini turun.
Aku langsung segera masuk ke kamar.

“ihh kan benar.” sewotku.

“Gara-gara jendela sialan ini aku pasti disemprot karena telat briefing.” gerutuku sampil menutup jendela dengan keras tanpa perasaan.

Kutemukan payung yang digantung dibelakang pintu. Dengan tergesa-gesa aku terpaksa menerobos hujan, kembali berjalan menuju ke kantor. Setelah beberapa menit aku berjalan,

“Astaga! kini pintu rumah lupa aku tutup” kagetku sambil menepuk jidat. Kututup payung, hujanpun mengguyur tubuhku. Sambil berbasah kuyup kembali berjalan balik kerumah. Niat kerjaku sudah hilang, hanyut dibawa air hujan yang mengalir masuk ke got.

Aku sampai di depan rumahku. kulihat pintu tertutup rapat, hmm mungkin tertutup karena tertiup angin. Ku pegang gagang pintu dan ku coba membukanya. Terkunci.

“Kok bisaaa?” teriakku kesel. Mimpi apa aku tadi malam sampai dikasih cobaan seperti ini gumamku.

Aku memasukkan tanganku kedalam kantong celana. Tidak kutemukan kunci rumah disitu, ku raba kantong kiri dan belakang celanaku. Tidak ada. wajahku pucat pasi.

“Kunciku hilaaanng!!!”

Jangan kemana-mana, di Hatiku saja

“Di saat ini – ingin kuterlena lagi, Terbang tinggi di awan tinggalkan bumi di sini”

“Di saat ini – ingin kumencipta lagi, kan kutuliskan lagu sambil kukenang wajahmu”

“Malam panjang, remang-remang. Di dalam gelap aku dengarkan syair lagu kehidupan”

——-

Kulantunkan sebuah lagu lawas Syair kehidupan. Petikan gitarku dan suara Dinda menghayutkan orang-orang yang khusuk mendengarkan. Terhayut dalam kisah masa lalu, mungkin cerita cinta waktu sekolah, kisah lama masa kuliah, atau sekadar terbayang kembali sebuah wajah yang telah lama terkubur dalam.
Wajah-wajah dengan tatapan kosong sekedar menatap gelas dihadapannya, secara perlahan tersenyum menandakan alam bawah sadarnya telah terhayut dalam suasana sahdu suara dinda.

Ku ulang lagu ini sampai dua kali agar para pendengar puas bisa mengekspresikan perasaannya dengan berbagai cara. Tidak ada yang berkata-kata, semua terdiam. Ada yang tersenyum, dan banyak yang termenung. Aku menganggukkan kepala kepada Dinda disebelahku agar mulai berdiri dan mulai ngider memungut receh sekedar Rp500,- atau Rp.1000,- pun kami sudah happy, maklum pekerjaan ngamen tidak memiliki target berapa yang harus kami bawa setiap malamnya.

Sementara Dinda memungut uang, kunyanyikan sebuah lagu penutup. Lagu yang menimbulkan nostalgia yang tak berkesudahan. Kuporsir semua perasaan dalam lagu ini agar semakin menimbulkan efek yang dalam bagi para pendengar. Aku yakin mereka yang berkunjung ke kafe ini adalah mereka yang mempunyai beribu cerita manis dan indah yang patut bisa dikenang melalui sebuah lagu.
Lagu “Semua bisa bilang” ku lantunkan dengan sedikit ceria.

“Kalau kau benar-benar sayang padaku
Kalau kau benar-benar cinta
Tak perlu kau katakan semua itu
Cukup tingkah laku”

“Sekarang apalah artinya cinta
Kalau hanya dibibir saja
Cinta itu bukan main-mainan
Tapi pengorbanan”

“Semua bisa bilang sayang, Semua bisa bilang
Apalah artinya cinta, tanpa kenyataan …”

=====

Diluar kafe sambil menikmati toh botol, aku dan Dinda mulai menghitung uang receh yang ada dalam bungkusan permen.

“Wah banyak sekali ya Din.” kataku pada Dinda, tidak ada pecahan Rp.1000,- paling kecil ada Rp.5000,- paling besar ada Rp.20.000,-.

“Kok tumben dapat banyak ya kak”, celoteh dinda kesenangan.

“Iya, itu karena kamu nyanyinya pake perasaan.” jelasku kepada si mungil ini.

Kemudian Dinda membolak-balikan bungkusan permen tempat uangnya. Secarik kertas kecil terjatuh. Dipungut oleh dinda kertas tersebut, dan dibuka lipatannya.
Ada tulisan tangan tertera disitu, dibaca dengan keras oleh Dinda.

“Aku sudah pernah mengatakannya kepadamu,
jangan kemana-mana, tetaplah berada dihatiku.
Tapi kau telah menolaknya.
Sekarang engkau bernyanyi disini, so sweet sih…
tapi bikin hatiku panas”

Dinda berlari kembali kedalam cafe. Dengan marah dia melihat satu persatu pengunjung cafe disitu. Aku menahannya “Sudah Din. Gak usah diperpanjang urusan ini.” aku memegang tangannya, juga sambil melihat sekeliling.
Tidak ada, tidak ada satupun orang yang aku kenal didalam sini. Ah mungkin dia sudah pergi setelah aku dan Dinda selesai bernyanyi tadi.

Aku menarik tangan Dinda dan dia menurut mengikutiku, satu tangan memegang gitar dan satu tangan lagi ku genggam erat tangannya. aku ajak dia berjalan menelusuri trotoar malam. Langit berbintang menyaksikan perjalanan muda mudi ini dalam mencari jati diri.

Tanpa sadar, sepasang mata menatap kepergianku dan Dinda dari parkiran. Di dalam mobil berkaca gelap, sambil mengusap matanya yang sendu, dia bergumam “Semoga bahagia.”

Bangunkan aku pukul 7

Selang infus tertusuk ditangan, selang oksigen menutupi hidung dan mulutnya, wajah sayu terbaring disana. Berbagai macam kabel saling terhubung dan berakhir disebuah layar kecil diatas tempat tidurnya. Bunyi suara tuuuttt panjang menandakan detak jantungnya telah berhenti. Tidak banyak yang bisa dilakukan suster dan dokter untuk membantu disaat darurat tadi. Karena hidupnya memang sudah divonis bisa bertahan untuk sampai beberapa hari saja. Dokter sudah memberitahukan kepada kedua orang tuanya mengenai perihal ini. Dengan kesabaran yang luar biasa mereka bisa menerima takdir yang sudah diberikan kepada anak tersayangnya.
Luki telah pergi, pergi berpulang ke Yang Maha Kuasa. Ayah dan ibunya dengan tegar menghadapi kenyataan yang terjadi. Hanya air mata yang menunjukkan gambaran betapa kasih sayang kedua orang tua kepada anaknya ini.
Aku terpaku disamping kanan jasadnya dengan linangan air mata. Aku melihat saat-saat kepergiannya, tanpa rasa dan tanpa nestapa, kini tinggal senyum yang tergores di bibirnya membuat aku menjadi tegar.
Aku memegang kelu kaku tangannya. Aku masih teringat kata-kata terakhirnya tadi subuh dini hari, setelah beberapa jam dia tidak bisa tertidur.

“Na ma ku luki, ta pi aku tidak se berun tung nama kuh, aku men cintaimu tapii…” katanyanya lirih kepadaku sambil terputus-putus dan tidak bisa menyelesaikan perkataannya karena aku potong dan meminta dia berhenti berbicara karena aku kasihan dengan kondisinya, hanya untuk berbicara saja dia merasakan sesak di dada.

“ssttt, jangan berkata begitu. Aku mencintaimu dan tidak pakai tapi. Aku akan selalu disini menjagamu” potongku sambil memegang lembut tangannya.

Diapun coba untuk tersenyum mendengarkan perkataanku itu.

“A ku akan ti dur kem bali.”

“Bangun kan a ku pu kul tujuh.” katanya lirih dekat sama kupingku.

Ahh ternyata tepat pukul tujuh, dia pergi meninggalkanku.

“Luki, bangun.. sudah pukul tujuh” kataku tertunduk sambil menggengam erat dingin tangannya.

“Sudahlah nak” ibunya coba menenangkanku.

“Ikhlaskan kepergiannya.” sambil mengelus kepalaku ibunya berusaha menjadi semakin tegar.

Menanti lamaran

Rendi adalah kekasihku. Kini dengan pasti aku akan meminta jawaban darinya segera, mengingat hubungan kita yang backstreet tapi kita sudah menjalaninya cukup lama. Aku mengerti jika kedua orang tuanya tidak menyenangiku dan bahkan jelas-jelas menolak keberadaanku, dan karena itu aku sudah pernah mengatakan kalau aku menyerah. Aku akan pergi dari kehidupanmu kataku saat itu. Tapi Rendi dengan yakin mengatakan, kalau dirinya sungguh masih mencintaiku dan memaksa aku untuk tetap bertahan. Ini hanya masalah waktu katanya sambil memelukku. Aku merasakan rasa cintanya yang dalam pada saat itu, pelukannya meluluhkan niatku untuk pergi meniggalkannya. Aku seolah mendapatkan kekuatanku kembali. Aku senang dia begini, dia telah menunjukkan kebenariannya kepada diriku yang lemah ini. Akupun sesungguhnya masih mencintainya. Aku akan meminta maaf padanya jika aku pernah mengatakan kalau aku akan pergi, karena aku tidak tahan dengan cemohan keluarganya. Entah apa yang salah pada diriku, atau aku pernah berbuat salah pada mereka? Entahlah, sepertinya aku juga mungkin perlu instrospeksi diri.

Walaupun hubungan kita hanya sebatas backstreet. hubungan adalah tetap sebuah hubungan, aku yakin dengan ini. Aku berharap di setiap berhentinya hujan akan selalu ada pelangi, Aku berharap di setiap rintangan yang datang, akan datang jawaban pada satu waktu nanti.
Tapi sampai kapan aku harus begini? menunggumu dalam siang dan malam, menanti yang tidak pasti. Aku harus katakan inilah waktu terbaik baginya untuk mengatakan kepadaku.

“Lamarlah diriku ren, aku menunggumu.” kataku di sela-sela gemuruh ombak. “Aku menunggumu disetiap terbit matahari, aku menantimu di setiap pasang dan surutnya ombak ini.” kataku dengan puitis.

“Kamu harus memutuskan sebaiknya bagaimana. Apakah kita sebaiknya lari saja?. Semua tergantung kamu, aku hanya bisa menunggu.” lirihku dengan mengharapkan suatu keputusan.

Rendi yang dari tadi terdiam akhirnya membuka suara.

“Aku sudah memutuskan, kita berangkat sore ini hen.” Jawab Rendi seolah memberikan sebuah harapan.

“Aku akan pulang dulu, packing beberapa pakaian. Nanti aku akan kembali menjemputmu.” katanya sambil memelukku.

Ah Rendi, sungguh perkataan inilah yang sudah lama aku nanti. Dalam pelukannya kini aku terhayut dalam mimpi indah hidup bersamanya.

Rendi beranjak pergi meninggalkanku. Aku bahagia melihatnya pergi, karena dia akan kembali untuk membawaku bersamanya.
Ku pandangi foto-foto di dinding. Semua akan kuturunkan dan kubawa bersama, kebanyakan fotoku berdua bersama Rendi.
Diantara berbagai macam foto ada satu pigura bergambar kapal layar yang dibawahnya ada tulisan nama kita berdua. Dengan tulisan cantik disitu tertulis “Rendi dan Hendrik”.

Untuk Kamu, apa sih yang enggak boleh?

Seperjalanan waktu, detik, menit, jam dan haripun berlalu. Tanpa terasa kini dirimu dan keluarga sudah pindah jauh, kamu terpaksa mengikuti papamu yang pindah tugas. Aku sangat tidak bisa menerima pada awalnya… Tapi siapa diriku yang mengatur segala persoalan keluargamu. Tapi serius deh, sangat berat mengetahui dirimu akan segera pindah walau kamu memberitahukan tentang itu tiga bulan sebelum keberangkatanmu. Menjalani tiga bulan terakhir menjelang keberangkatanmu sungguh berat bagiku, aku tidak bisa berlaku biasa, kadang aku salah tingkah didepanmu. Tidakkah kamu merasakannya? apa kamu juga merasakan itu?

Kadang dalam kebersamaan kita menjelang tiga bulan itu, kita beberapa kali sering berantem. Ya aku rasa suatu kejadian yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Hanya hal-hal kecil saja bisa membuat kita diam-diaman selama hampir 1 x 24 jam. Tapi setelah itu, saat matahari menjelang terbit, fajar segera menyingsing, disaat aku terbangun dari tidur lelapku, perasaan rindu menjadi menggebu-gebu, ingin segera menghubungimu. Berkata ‘maaf’ dan membalasnya dengan menghibur kesedihanmu yang kemarin. Aku sedih disaat hari kepergiannmu dulu, aku hanya mengirim sms dengan sebaris kalimat, tanpa datang mengantarkanmu kebandara. Aku bisa mengerti kebingunganmu terhadap mama dan papamu yang pasti bertanya-tanya kenapa aku tidak datang. padahal teman-teman kita semuanya hadir. aku sendiri kalau menjadi dirimu tentu akan bingung mengatakannya apa yang harus kukatakan.

Tapi ya sudahlah… Itukan dulu, kini tentunya kamu damai disana. Setiap saat dikunjungin sama mama dan papamu. Aku maaf belum bisa mendatangimu, walau sekadar menatapmu pun aku belum berani. Aku sedih dengan apa yang telah terjadi dengan semua ini. Aku sedih karena setiap malam dirimu seolah menatapku, melihatku. Aku tahu kamu rindu sama aku dari sejak kepergianmu dulu sampai sekarang. Mungkin ada beberapa kata yang kamu ingin sampaikan kepadaku, kata-kata yang dari dulu kamu ingin katakan. Tapi aku tahu kok apa yang ingin kamu katakan, karena aku juga ingin mengatakan hal yang sama kepadamu. Kalau kamu itu sangat mencintai aku, aku juga begitu sungguh mencintaimu dan aku selalu ingin melakukan apapun untuk dirimu. Untuk kamu tidak ada yang tidak bisa aku lakukan. Walaupun kini kamu telah jauh sekali dari aku, tapi aku tahu perasaan kamu itu bagaimana, sama dengan kamu yang tahu perasaan aku juga bagaimana.

Kita tumbuh dan bermain dari kecil, hingga kini timbul butir-butir cinta yang dihasilkan dari kebersamaan kita selama ini. Segala halangan sampai rintangan yang pernah terjadi semua sudah kita lalui. Dari mereka-mereka yang suka sama kamu atau teman-temanku yang suka sama aku, semua itu bisa kita hindari karena kita memang saling cinta.

Kini aku merasakan kalau dirimu selalu berada dalam hatiku. Kamu jangan sedih, aku selalu ingat apa yang terjadi dan selalu mencintaimu. Beberapa saat memang aku kadang ikut terhanyut dalam perasaaan ini walau tidak kutunjukkan pada kedua orang tuaku.

Dan aku masih merasa bersalah kepadamu. Aku yang jahat melukai hatimu karena hanya masalah kecil yang selalu terjadi. Sampai aku tidak bisa menghantarkan kepergianmu. Kesedihanku yang paling besar adalah aku tidak bisa hadir pada saat hari pemakamanmu, pada saat hari terakhir kamu didunia ini aku tidak ada. aku tidak mengetahuinya, tidak ada yang mengabarkan kepadaku. Aku sungguh sedih…

Pada hari itu tiga hari setelah kedatanganmu ke kota itu, aku mencoba untuk meng sms dirimu.

Aku tulis “sayang.. apa kabar? Gimana keadaan disana? Aku maaf ya tentang hari itu… :*”

Dan beberapa saat kemudian aku menerima balasan sms darimu yang mengatakan

“Sayang, I miss You so much:*”.

Mendapatkan sms darimu sungguh membuat hatiku girang saat itu. Aku langsung menelponmu, nada sambung terdengar disana tapi telponmu mendadak terputus sebelum kamu mengangkatnya. Aku telpon balik tapi seperti tidak ada sinyal atau memang seperti hp yang sudah dimatikan. Aku takut kalau dirimu masih marah kepadaku sehingga kamu mematikan hpmu setelah sms itu.

Besok dan besoknya aku masih berusaha menelpon kamu dan hpmu selalu saja masih mati. Dengan segala keberanian aku mencoba menelpon orang tuamu menanyakan tentang dirimu. Dan jawaban yang aku dapatkan membuat seolah petir menyambar diriku, hatiku kecut sejuk terasa, jantungku seperti berhenti berdetak, aku tertunduk. Bajuku mulai basah, air mataku mengalir tanpa bisa kutahan. Aku mendapatkan berita tentang kecelakaanmu. Seolah aku akan mati juga saat itu, seolah aku ingin mengejarmu, menangkapmu.

Perasaan bersalahku semakin besar dan besar karena sampai kini aku belum bisa mendatangimu menjengukmu menabur bunga cinta di pusaramu, menyiramkan air sukma di makammu dan memanjatkan doa disamping kuburmu. Aku janji aku akan datang segera ketempatmu, karena aku sangat mencintaimu sayangku…
kamulah cinta kecilku dulu sampai kini sampai akhir hayatmu, sampai akhir hidupku nanti… Always and forever.

Cintaku mentok di Kamu

Pagi dingin menyelimuti kota Batam. Hujan yang mengguyur deras dari tadi malam membuat malas siapapun untuk beranjak dari tempat tidurnya masing-masing. Mengingat hari ini adalah hari Sabtu, weekend bagi sebagian besar orang. Tapi tidak bagiku, aku harus beranjak memaksa tubuh yang malas ini untuk segera kekamar mandi. Air dingin yang membuat menggigil seluruh badan tidak menyurutkan langkahku untuk beraktifitas di hari libur.
Aku bersiap dengan segala perlengkapan kerja, sambil sarapan roti dan segelas teh panas untuk sekadar menghangatkan badan yang kedinginan.
Siap semuanya, akupun berangkat ke kantor dengan mengenderai motor. perjalanan licin dengan udara yang dingin menghantarkan pengendara ini untuk berjalan dengan hati-hati.

Teringat kejadian tadi malam, aku menghadiri acara ulang tahun Shinta, salah satu teman kantorku yang diadakan dirumahnya. Acara cukup meriah dengan dihadiri kebanyakan teman-teman kantor. Cuma ada beberapa teman Shinta yang tidak kukenali, salah satunya Lina. Seorang karyawati disebuah bank swasta. Lina datang bersama dua orang teman lainnya, Widya dan Joko yang berbadan tegap layaknya security bagi mereka. Aku sungguh tertarik dengan wanita yang bernama Lina ini. Orangnya cantik dan enak diajak bicara, kita kenalan dan banyak menceritakan tentang background masing-masing. Lina berasal dari Bali, sudah dua tahun ini dimutasi atau lebih tepatnya meminta dimutasikan karena mengikuti ayahnya yang pindah tugas kesini, dan kini ditugaskan mengisi kantor cabang di Batam. Dan ternyata rumahnya juga tidak jauh dari komplek rumahku.
Di akhir acara, Shinta – temanku yang berulang tahun menghampiriku sebelum aku beranjak pulang. Dia memberikanku secarik kertas dan langsung memasukkan kedalam saku jacketku. Ini dari Lina, katanya dan kamu jangan baca disini ya.
Malam itu hatiku berbunga-bunga karena dapat perhatian dari seorang Lina dan entah apa yang dituliskan di kertas itu, sebuah janji? atau alamat rumahnya? ahh tidak sabar rasanya untuk segera membaca apa yang ditulisnya.

Sesampainya aku dikantor, aku langsung menuju meja kerjaku dan ku raih secarik kertas dari jaket yang kukenakan. Untung tidak hilang, tadi malam aku langsung tidur dan lupa tentang secarik kertas yang ada didalam jacket, karena hujan sudah turun disaat aku sampai kerumah, akupun langsung tertidur.

Aku membaca tulisan tangan yang rapi di atas kertas itu, “081274851222 cintaku mentok di kamu, telp balik pls”.

Ini sebuah pengharapan yang sudah lama aku mimpikan, kini ada wanita yang memberikan sinyal kepadaku dan tentunya tidak boleh aku lewatkan. Jam baru menunjukkan pukul 08,35. aku memberanikan diri untuk memutar nomor yang tertera dengan tidak sabar. Aku berdoa semoga ini jawaban Tuhan untuk mengakhiri masa jombloku yang sudah lama. Terdengar suara nada masuk di seberang sana setelah aku memutar nomor tersebut.

“Selamat pagi, Joko disini.” terdengar suara cowo yang menjawab.
Secepat kilat langsung kuputuskan sambungan telpon. Sekelebat bayang wajah Shinta tertawa terbahak-bahak menertawaiku sambil koprol. 😉

Bales kangenku dong

Reza menata rapi pakaian yang telah di setrika dari dua jam yang lalu. Dia harus menyelesaikan semua pekerjaan ini agar bisa menikmati malam dengan santai dan nyaman. sudah dua malam reza begadang demi menyelesaikan sisa-sisa pekerjaan mirsa pacarnya, yang mendadak harus pulang ke Bandung karena ada keperluan mendadak yang harus diselesaikan. Pekerjaan mirsa tidak sulit diselesaikan karena mereka berdua memang bekerja pada kantor yang sama. Semua sudah siap dan telah rampung kini.

Mereka adalah pasangan yang ideal, reza tinggi cakep sedangkan mirsa juga tinggi cantik. Hubungan yang sudah terjalin hampir lima tahun membuat mereka sudah saling percaya satu sama lain. Tidak ada yang perlu dicurigai jika salah satu dari mereka harus melakukan pekerjaan keluar kota.
Tahun depan mereka merencanakan untuk menikah. persiapan matang telah mereka lakukan, sedikit demi sedikit mereka telah cicil dari sekarang.

Malam itu Reza mulai menikmati waktu-waktu santainya. Dia menonton TV sambil ditemani dengan secangkir susu panas. Sejurus kemudian terdengar ketokan dari pintu depan. Rezapun beranjak menuju ke ruang tamu. “Loh kok, pulang gak ngabarin..” katanya kaget melihat sosok sang kekasih muncul dengan raut muka yang capek.
“iyaa tau tuh mummy, katanya sudah baikan dan maksa suruh pulang segera ke Jakarta” tuturnya sambil mendekap erat tubuh Reza. Rasa kangen selama tiga hari membuat mereka sejenak berpelukan.
“Aku gak bawa apa-apa yah, abis tadi juga buru-buru, Bandung di guyur hujan dari pagi sampai berangkat tadi” sambil masuk kekamar Mirsa meninggalkan Reza diruang TV.
Kemudian dia keluar kamar sudah berganti pakain rumah yang nyaman dan duduk disofa disamping reza.

“Gimana say kerjaannya? ” tanya mirsa. “Udah aku letakkan dimeja kerja kamu tadi. aku sudah dua kali periksa, kelihatanya perfect” jawab Reza meberikan laporan.

“Gimana mummy? sudah baikan?” sambil memeluk tubuhnya dari samping Reza bertanya.

“Mummy ok, dia cuma kangen aja sama aku, makanya aku disuruh pulang bentar.” desahnya kegelian karena aku menggelitik pinggangnya.
“Udah ah.. geli dong say!” elak Mirsa bergeser sedikit kedepan menghindar dari jari-jariku yang ikutan kangen untuk menggelitiknya.

“Aku pulang ya dek” kata Reza memanggil Mirsa dengan panggilan adek.
“Udah jam 11 malam, kirain tadi kamu pulang besok pagi, lagian besok aku ada janji sama customer untuk membicarakan proyek akhir bulan”.

“Gak, kamu jangan pulang dong. Temenin aku malam ini” pujuk Mirsa sambil menggelayutkan tangannya pada lengan reza.
“Please, malam ini saja” mohonnya. “Kamu gak kangen ama aku ya say, bales kangenku dong” pintanya sambil meluk Reza dari belakang.

Sambil menghela nafas panjang, Reza menganggukan kepala tanda setuju untuk menemani pacarnya disini. Bukan Reza jika tidak bisa membahagiakan kekasihnya.
Malam itu menjadi malam yang panjang bagi mereka. Tiga hari berpisah seolah tiga tahun tak berjumpa.

—————

Bunyi ketokan pintu depan terdengar sampai kekamar. Membangunkan Reza yang masih dibungkus selimut. Mirsa sudah tidak ada dikasur, mungkin dia sudah bangun dan sekarang berada didapur untuk menyiapi sarapan.
“Dek… ada orang diluar, tolong bukain pintu depan dong” teriak Reza. Dia masih tidak beranjak dari tempat tidur. Udara dingin AC masih membuatnya malas.
Kembali suara ketukan pintu depan terdengar dan sekarang lebih keras.
Dengan malas Reza bangun menuju ke dapur mencari keberadaan Mirsa. Didapur tidak ada, dikamar mandi tidak ada, ah mungkin ke warung membeli telor mengingat stock habis olehnya.
Reza menuju ke pintu depan dan membuka pintu.

“Hi say, baru bangun yaa.” tegur Mirsa melihat Reza yang masih kelihatan lusuh. Tapi tetap memeluk Reza dengan hangat. Sambil masuk kedalam rumah mirsa menenteng dua kantong bawaannya. Meninggalkan reza yang masih kelihatan bingung.

“Itu ada oleh-oleh dari mummy satu kantong buat kamu, yang satu lagi buat aku, mummy kirim salam dan nanyain kok kamu gak ikut. aku katakan aja kalau ada kerjaan yang nggak bisa di tinggal.” cerocosnya dipagi ini.

“Kamu dari mana dek?” tanya Reza sudah mulai curiga dan kuatir.

“Kan aku udah janji pulang pagi ini, tadi nebeng mobil wak yang kebetulan berangkat ke bandara.

Rezapun bengong sambil terduduk di sofa.