
Hatiku berdegup kencang. Entah dosa apa yang aku perbuat kemarin. Kenapa barang itu ada di dalam tas kerjaku. Kenapa lisa lupa mengeluarkan barangnya. Matilah aku, jika sempat ketahuan kalau barang itu ada di dalam tasku, habislah sudah.
Kemarin sore setibaku di rumah, sewaktu lagi mengeluarkan laptop untuk kugunakan, ku temukan lipstik merah di dalam tas ini. Aku berpikir panjang, kira-kira lipstik siapa ini kok bisa nyasar ke dalam tasku. Terlintas wajah melankolis lisa sesaat. Lipstick merah ini pasti miliknya. Dia meminta tolong untuk menumpang beberapa dokumen yang akan dia bawa pulang untuk di kerjakan di rumah. Sebagian dia tenteng, sebagian lagi di masukkan ke dalam tasku. Tapi tidak kusangka kalau lipstik merah ini juga miliknya. Rumah kami yang satu jurusan membuat kita sudah terbiasa saling membantu.
Ku buka tutup lipstick merah itu, ku putar bagian bawahnya, ujung lipstick pun mulai muncul keatas. Kudekatkan kehidungku, hmm bau sesuatu yang tidak bisa aku ungkapkan. Wanita memoles ini di bibirnya, gumamku. Tak habis berpikir kenapa wanita bisa bertahan dengan goresan lipstick hanya demi penampilan dan kepercayaan diri.
Besok pagi-pagi sekali aku akan mampir ke meja kerjanya untuk mengembalikan barangnya ini.

“Ini lipstick siapa pah?” istriku mulai bertanya curiga setelah dia menggeledah isi tas kerjaku.
“Anu, it itu punya lisa, tadi dia meminta tolong untuk membawakan beberapa dokumen.” jelasku gemetaran.
“Hmm mamah gak tau deh kalau lipstick itu termasuk dokument ya..? tembak istriku seakan memojokkan jawaban bodohku.
“Iya mah kalau gak percaya telpon aja lisa deh tanya langsung.” jawabku lurus mencoba menguasai keadaan.
Sejurus kemudian istriku keluar dari ruang kerja. Kulihat dia menelpon seseorang. Aku rasa dia pasti menelpon lisa mencari tahu kebenaran tentang lipstick itu. Kulihat dia berbincang serius sambil sesekali melirik ke arahku.
“Itu bukan milik lisa. Dia tidak suka warnah merah menor gitu katanya. Dia bilang sebelum memasukkan dokumen memang sudah melihat lipstik itu didalam tas papah.” kata istriku mulai habis kesabaran.
Aku terdiam tidak tahu berkata apa-apa. Akupun tidak tahu kalau lisa akan menyangkal. terlebih lagi aku tidak tahu lipstick siapa yang ada didalam tasku ini.
“Papah terlalu!” hardik istriku sambil menangis pergi ke kamar menginggalkanku sendiri di ruangan kerja.
Aku terdiam memikirkan apa yang terjadi sesungguhnya. Aku tidak bisa berdebat. Bukan tipeku berdebat apalagi debat kepada istri sendiri. Aku berpikir lipstick siapa yang bikin heboh rumah tanggaku ini.
Tiba-tiba istriku muncul kembali, aku terdiam. Kemudian dia berjalan kearah belakang tempat dudukku. Dia menjatuhkan tangannya keatas dada ini. Dia menunduk memelukku, kepalanya muncul di samping kanan kupingku.
“Pah, maafkan mamah ya. Itu lipstick mamah, ingat dua hari yang lalu kita ke kondangan langsung dari kantor papah. Mamah lupa telah memasukkan lisptick ini ke dalam tas kerja papah” bisik istriku mengakhiri drama menyebalkan ini.
Ku pegang tangannya yang memelukku. “Istriku… Cemburumu bikin papah semakin sayang kepadamu, please letakkan barang pada tempatnya ya.” ejek mesraku kepadanya.
———————–
bth, 12 feb 12
“Flash Fiction ini disertakan dalam Giveaway BeraniCerita.com yang diselenggarakan oleh Mayya dan Miss Rochma.”