Kamu hantu

Kenapa kamu selalu memandangku? owh iya kamu kan selalu memandangku, bahkan mengikuti kemana saja aku pergi dan berjalan baik dari pagi hingga malam hari, bahkan dalam tidurku pun kamu ada. Kamu gak ada kerjaan ya? atau emang kerjaanmu untuk menjagaku? awas yaa, aku kan gak perlu dijaga lagi. Aku nggak anak kecil, aku bisa sendirian kemanapun atau apapun yang mau aku kerjakan.

Kamu bagai teman khayalanku. Aku menyadari kehadiranmu sejak aku berumur 5 tahun mungkin. Dulu aku sering berbicara kepadamu bahkan kita kadang bermain bersama-sama. Dulu aku tidak tahu kalau kamu tidak ada secara nyata, jadi aku sering bermain dengan kamu. Tapi semakin besar aku, dan orang-orang di sekeliling juga ikut menyadariku. Bahwa ternyata kamu itu tidak ada. Awalnya aku sedih dan bingung untuk menerimanya, tapi sejalan dengan waktu akupun bisa mencerna keadaan dengan baik. Akhirnya kusadari kalau kamu memang tidak ada.

Aku berusaha untuk mengacuhkanmu biarpun kamu menyapaku duluan, sulit untukku menghindar. Hari demi hari akhirnya aku bisa mendiamkanmu. Tapi kamu selalu ada, tetap berada di dekat sini. Aku tetap masih bisa merasakan kehadiranmu walau sudah tidak setajam dulu. Kamu tidk marah aku mendiamkanmu tapi kamu tetap diam dan setia mengikutiku. Aku pasrah dan aku biarkan saja kejadian ini berjalan seperti ini sampai dengan saat ini.

Terima kasih ya sudah menemani waktu kecilku dulu, aku masih mengigatnya. Tapi maaf aku tidak bisa berbicara dan memahamimu lagi karena dunia kita berbeda.
Aku cuma sedang mengingat waktu kecilku dulu..

.
.
.

*surat#16*30harimenulissuratcinta*

Bapak calon mertua

Dear bapak,

Sebelumnya saya memperkenalkan diri sebagai pacar anak bapak. Tentunya anak bapak sudah memberitahu perihal tujuan saya menuliskan surat ini. Semua latar belakang saya termasuk keluarga dan darimana saya berasal, saya yakin anak bapak sudah menjelaskannya.

Jadi dalam kesempatan yang singkat ini izinkan saya menghaturkan maaf sebesar-besarnya jika ada kata-kata yang kurang sopan yang saya tuliskan, karena sebelum saya kirimkan surat ini, saya sudah membacanya puluhan kali untuk mengkoreksi jika ada kesalahan dalam penulisan atau tidak baik jika dibacakan.

Surat ini sebagai jawaban dari lamaran saya melalui telpon dua hari yang lalu. Sudah saya terangkan niat tulus saya melamar anak bapak untuk bisa saya jadikan istri yang ke satu, tidak yang kedua atau apalagi yang ketiga, karena saya dalam status single dan saya belum pernah menikah sebelumnya.
Saya berterima kasih kepada bapak yang mengizinkan saya untuk melamar anak bapak dengan menggunakan telpon, mengingat kondisi saya yang jauh beribu-ribu mil dari ruang tamu mungil rumah bapak. Saya terharu bapak mengerti kondisi saya yang sedang menunaikan tugas di negeri orang nun jauh disana. Bapak mengerti jika kami, saya dan anak bapak perlu berhemat untuk kehidupan yang akan datang. Bapak mengerti jika saya datang ke rumah bapak hanya untuk acara lamaran saja akan memberatkan biaya, belum lagi ongkos pulang pergi buat orang tua saya. Bapak berpikiran bijaksana untuk memper-irit acara lamaran ini dengan membebankan biaya sejumlah pulsa internasional yang harus dibayarkan oleh saya, ya iyalah kan yang nelpon saya. Bapak juga pintar dan sangat berhati-hati sekali mengambil keputusan, bapak minta saya menuliskan surat kepada bapak sebagai jaminan lamaran dengan melampirkan dua lembar materai 6000 Rupiah beserta tanda tangan. Hanya sebagai pegangan untuk mengikat saya agar tidak melarikan diri menjelang akad nikah, begitu canda bapak kepada saya waktu di telpon dua hari yang lalu. Bapak pintar melucu juga ya…

Jadi berkenaan dengan itu semua, dengan ini saya tegaskan kembali dan saya katakan dengan tulus dari hati yang paling dalam sedalam samudra… saya melamar anak bapak. Izinkan saya untuk menjadikan dia sebagai istri dan menjaganya selalu dan selamanya.

Mengenai hal-hal yang lain akan dibicarakan secara seksama di telpon pada kesempatan berikutnya, mengingat surat ini adalah hanya sebagai surat lamaran.

Sekali lagi maaf atas ketidak sopanan tulisan saya semoga bisa di pahami dan bisa di terima dengan baik.

Salam buat keluarga disana terutama calon ibu mertua

Tertanda

Calon menantu -;)

*surat#13*30harimenulissuratcinta*

Mimpi

Detak suara jam dinding membuat bulu romaku berdiri, jam sudah menunjukkan pukul 23.47 menuju ke tengah malam. Di saat tepat pukul 00.00 suara itu akan kedengaran lagi. Aku tidak tahu suara apa, tapi menakutkan. Membuatku semakin tidak bisa memejamkan mata ini. Menyesal rasanya menerima teman berkunjung kesini tadi. Asik sih ngobrolnya sampai lupa waktu, jadi pulangnya telat banget. Dari jam 11 aku mencoba untuk memejamkan mata, tapi tidak terlelap juga akhirnya. Semakin dekat ke jam 00:00 semakin cepat detak jantungku berdetak bersamaan keluarnya keringat dingin dari tubuhku.

Aku mahasiswi jurusan sastra Inggris, memutuskan untuk ngekost sendiri. Sebelumnya aku ngekost berdua bersama teman. Tapi karena ingin mendapatkan privasi aku memilih untuk ngekost sendirian. Untunglah temanku itu pengertian dan tidak tersinggung atas permintaanku untuk pindah. Akupun pindah sejak dua minggu yang lalu. tidak jauh dari tempat kostku semula.

Teng.. Teng.. Teng, bunyi lonceng jam mengagetkanku. Tepat tengah malam sudah, jarum jam tepat menunjukkan pukul 00.00. Jantungku mulai berdegup dengan kencang, menandakan arenalinku terpacu karena sesuatu.
Aku menutup kepalaku dengan selimut. Semua doa yang aku hapal aku ucapkan dalam hati. Tidak peduli doa apa saja aku bacakan. Aku sungguh ketakutan. Suasana hening sunyi melumpuhkanku, hanya detak jarum jam di dinding halus terdengar. Aku terpekur kaku dalam selimut, tidak kupedulikan peluh membasahi baju ini. Lidahku kelu, aku pun sudah tak sanggup untuk teriak.

“Ughh.. tolong.. tolong…!”
Aku berteriak. Aku merasakan ada tangan yang mencekik leherku dari luar selimut. Mukaku masih terselimuti dan cengkeraman tangannya begitu kuat seolah menutup jalan pernafasanku. Kakiku meronta kesana kemari ingin melepaskan makhluk asing yang di atas tubuhku ini. Tanganku mencengkeram keras tangan kasarnya. Tangan yang begitu kuat melumat tenggorokanku. Aku tak mampu bersuara lagi. Aku kehabisan udara, dadaku serasa mau pecah.

Dan seketika sirna, semua hilang, hampa. Tubuhku ringan dan,
Aku mati.

Mengecoh waktu

Waktu tidak pernah bisa dimengerti, menit dan detik selalu berjalan teratur dan rapi dengan ukuran detaknya sendiri. Pernah suatu waktu, kala aku kecil dulu, aku ingin menghentikan waktu. Aku berdiri diatas kursi untuk mengambil jam dinding. Aku masih perlu menjinjitkan kakiku untuk menggapai jam berbentuk love di ruang tengah disaat mama masih tidak kelihatan. Aku memerhatikan jam itu dengan seksama. Aku lihat jarumnya ada tiga, aku suka membayangkan kalau jarum-jarum jam itu adalah ayahku, ibu dan aku sendiri. Jarum yang paling besar dan lambat berjalannya bagaikan ibuku, ibu yang selalu beraktifitas didalam rumah membersihkan semua perabotan, memasak, mencuci dan menjaga rumah, jarum ini berjalan dengan lambat tapi teratur. jarum yang paling panjang dan lumayan besar itu adalah ayahku. berjalan dengan pasti tidak terlalu lambat dan juga tidak terlalu cepat, selalu berjalan penuh ketelitian. Seperti ayahku yang hampir sepanjang siang bekerja mencari penghasilan untuk menghidupi keluarga, ibu dan aku. Yang terakhir adalah jarum jam panjang dan cenderung kurus. kenapa kurus? karena jarum ini nakal dan susah bangun pagi dan malas makan, selalu bergerak cepat memutari permukaan jam seperti aku yang suka berlari kesana kemari mengelilingi rumah.

kumundurkan jarum panjang sekitar tiga puluh menit. Aku ingin melihat bagaimana reaksi Ibu, aku tersenyum bergumam sendiri… Aku pun bisa santai besok berangkat ke sekolah dan tidak terlambat pikirku saat itu.

Alhasil besoknya sesampai di sekolah, aku dihukum sama guru karena datang terlambat. Hari yang berat kulalui di sekolah, mana gak buat pr juga ya dobel-dobel deh hukumannya. Semua gara-gara jam yang kuperlambat di rumah.
Pulang ke rumah dengan wajah lesu letih kelaparan. Aku masuk ke rumah dengan menyapa Ibu seperti biasa. Ahh benar-benar hari berat akan kulalui hari ini, Ibu memasang wajah angker. Dia marah kepadaku karena menuduh aku merubah settingan jam. Ibu memang suka begitu nuduh-nuduh aku terus, walau tuduhan itu benar. Tapi aku kan tidak suka dituduh-tuduh sambil dimarahin. nuduh boleh tapi jangan sambil marah-marah dong sewotku…
Ibu bilang karena perbuatanku, aku sudah merugikan Ibu dan Ayah. Ayah nelpon ke rumah tadi pagi mengatakan kalau dia datang terlambat, padahal Ayah tidak merasa terlambat karena telah berangkat tepat waktu setelah melihat jam di rumah dan diperjalanan juga tidak macet kok kata ayah. Alhasil aku juga harus menghadap ayah nanti malam… Mati aku!
Sebagai hukuman aku disuruh Ibu untuk memotong rumput setelah makan kemudian nyuci piring, nyapu, ngepel dan beberapa kerjaan lagi. Untuk hari ini tidak ada hari main bagi diriku, itu hukuman darinya. Hukaman dari ayah mungkin lebih menakutkan nanti.

Aku rasa aku salah, aku memang salah. Aku salah telah merubah settingan jam. Aku salah merubah settingan jam hanya di rumah ini, harusnya aku tidak melakukannya di sini. Aku harus melakukannya di luar. Di tempat yang lebih luas jangkauannya. Yahhh aku telah menemukan ide, besok aku akan memanjat ke atas tugu jam di tengah kota. Sebuah tugu kebanggaan kota yang dipuncaknya ada jam besar yang selalu dilihat orang-orang jika melewati persimpangan kota. Biar waktu benar-benar lambat, biar aku bisa bangun agak siangan karena aku suka malas bangun tidur. Dan membuat tidak ada yang terlambat karena semua orang telah berangkat tepat waktu. #*$&#($)@!(#)

===========
bth17Sept13

[BeraniCerita #2] Tidak peduli

“Dengarinlah lisa. Tolong dengarkan dengan serius, untuk sekali iniii saja.” pintaku kepadanya sambil ku-elus lembut punggung putih yang halus ini.

“Setelah itu kamu putuskanlah yang terbaik buat dirimu, mau pergi atau tetap stay disini bersama aku.” jelasku tegas.

“Aku tidak peduli jika mungkin kamu tidak menyukaiku, yang penting kamu tahu kalau aku suka kamu, suka dengan manja kamu”.

“Aku tidak peduli jika kamu suka cuek kepadaku. Kadang omonganku seperti angin lalu bagi dirimu. Kamu sama sekali tidak perhatian dan suka sibuk sendiri”

“Aku tidak peduli kamu mau tidur dimana saja, mau di kasurku, atau di sofa? terserah kamu. Pokoknya kembalikan semangatmu dan aku janji akan selalu bersamamu.”

“Aku tidak peduli aku seperti orang gila yang berbicara sendiri, sedangkan dirimu suka berdiam diri sekarang.”

“Hei lihat aku.” sambil memegang kedua pipinya ku paksa dia untuk menatapku. “Maukah sekali ini saja kamu turuti kata-kataku, lupakanlah masa lalumu” lanjutku kepadanya.

“Meong.. meong” jawab lisa seolah mengatakan kepadaku kalau dia lagi malas, kemudian menunduk sayu kembali.

Akupun menarik nafas panjang, mencoba mengerti-in lisa. Kehilangan anak, mungkin menjadi pukulan terberat bagi se-ekor ibu kucing.
Aku tidak perduli apa kata orang terhadap sikapku kepadanya. Aku hanya bersimpati kepada mahkluk kaki empat ini setelah mendapatkan musibah kehilangan anaknya.

———————–
bth, 14 feb 12

“Flash Fiction ini disertakan dalam Giveaway BeraniCerita.com yang diselenggarakan oleh Mayya dan Miss Rochma.”

[BeraniCerita #1] Lipstick merah

Hatiku berdegup kencang. Entah dosa apa yang aku perbuat kemarin. Kenapa barang itu ada di dalam tas kerjaku. Kenapa lisa lupa mengeluarkan barangnya. Matilah aku, jika sempat ketahuan kalau barang itu ada di dalam tasku, habislah sudah.

Kemarin sore setibaku di rumah, sewaktu lagi mengeluarkan laptop untuk kugunakan, ku temukan lipstik merah di dalam tas ini. Aku berpikir panjang, kira-kira lipstik siapa ini kok bisa nyasar ke dalam tasku. Terlintas wajah melankolis lisa sesaat. Lipstick merah ini pasti miliknya. Dia meminta tolong untuk menumpang beberapa dokumen yang akan dia bawa pulang untuk di kerjakan di rumah. Sebagian dia tenteng, sebagian lagi di masukkan ke dalam tasku. Tapi tidak kusangka kalau lipstik merah ini juga miliknya. Rumah kami yang satu jurusan membuat kita sudah terbiasa saling membantu.
Ku buka tutup lipstick merah itu, ku putar bagian bawahnya, ujung lipstick pun mulai muncul keatas. Kudekatkan kehidungku, hmm bau sesuatu yang tidak bisa aku ungkapkan. Wanita memoles ini di bibirnya, gumamku. Tak habis berpikir kenapa wanita bisa bertahan dengan goresan lipstick hanya demi penampilan dan kepercayaan diri.
Besok pagi-pagi sekali aku akan mampir ke meja kerjanya untuk mengembalikan barangnya ini.

lipstickmerah

“Ini lipstick siapa pah?” istriku mulai bertanya curiga setelah dia menggeledah isi tas kerjaku.

“Anu, it itu punya lisa, tadi dia meminta tolong untuk membawakan beberapa dokumen.” jelasku gemetaran.

“Hmm mamah gak tau deh kalau lipstick itu termasuk dokument ya..? tembak istriku seakan memojokkan jawaban bodohku.

“Iya mah kalau gak percaya telpon aja lisa deh tanya langsung.” jawabku lurus mencoba menguasai keadaan.

Sejurus kemudian istriku keluar dari ruang kerja. Kulihat dia menelpon seseorang. Aku rasa dia pasti menelpon lisa mencari tahu kebenaran tentang lipstick itu. Kulihat dia berbincang serius sambil sesekali melirik ke arahku.

“Itu bukan milik lisa. Dia tidak suka warnah merah menor gitu katanya. Dia bilang sebelum memasukkan dokumen memang sudah melihat lipstik itu didalam tas papah.” kata istriku mulai habis kesabaran.

Aku terdiam tidak tahu berkata apa-apa. Akupun tidak tahu kalau lisa akan menyangkal. terlebih lagi aku tidak tahu lipstick siapa yang ada didalam tasku ini.

“Papah terlalu!” hardik istriku sambil menangis pergi ke kamar menginggalkanku sendiri di ruangan kerja.

Aku terdiam memikirkan apa yang terjadi sesungguhnya. Aku tidak bisa berdebat. Bukan tipeku berdebat apalagi debat kepada istri sendiri. Aku berpikir lipstick siapa yang bikin heboh rumah tanggaku ini.

Tiba-tiba istriku muncul kembali, aku terdiam. Kemudian dia berjalan kearah belakang tempat dudukku. Dia menjatuhkan tangannya keatas dada ini. Dia menunduk memelukku, kepalanya muncul di samping kanan kupingku.

“Pah, maafkan mamah ya. Itu lipstick mamah, ingat dua hari yang lalu kita ke kondangan langsung dari kantor papah. Mamah lupa telah memasukkan lisptick ini ke dalam tas kerja papah” bisik istriku mengakhiri drama menyebalkan ini.

Ku pegang tangannya yang memelukku. “Istriku… Cemburumu bikin papah semakin sayang kepadamu, please letakkan barang pada tempatnya ya.” ejek mesraku kepadanya.

———————–
bth, 12 feb 12

“Flash Fiction ini disertakan dalam Giveaway BeraniCerita.com yang diselenggarakan oleh Mayya dan Miss Rochma.”

belum ada judul

Rangga sambil bernyanyi-nyanyi terus mengayuh sepedanya, semakin kencang laju sepeda semakin tinggi pula suaranya. hari ini adalah hari minggu hari libur sekolah, Rangga anak smp yang bersahaja, baik, pintar dan banyak disukai oleh teman-tamannya atau para guru-gurunya baik di sekolah ataupun dilingkungan tempat tinggal orangtuanya yang terletak di komplek. hari ini rangga disuruh oleh mama nya untuk belanja beberapa bahan dapur. Rangga masih bersenandung lagu yang di gandrunginya kini dan tiba-tiba di saat sampai di jalan pertigaan dari sebelah kanan jalan melaju sebuah mobil avanza hitam dengan kencangnya, Rangga tidak konsentrasi dan masih saja bernyanyi-nyanyi. Dan tanpa bisa dihindari mobil itu menabrak sepeda Rangga dengan keras dan melempar sepeda dan pemiliknya ke arah yang berbeda… waktupun seolah berhenti….. read more…