Cut!

“Cut!” teriak sang sutradara menandakan bahwa pengambilan gambar untuk section ini selesai.

“Ayo semua istirahat, lima belas menit lagi kita continue.” sambungnya dengan semangat sambil turun dari kursi yang berkaki tinggi.

Laki-laki muda bertopi hitam ini dengan serius membaca naskah selanjutnya sambil mengepulkan asap rokok kesamping. Kadang tertawa sendiri dan kadang menyeringai menandakan bahwa dia benar-benar menghayati tulisan yang ada di kertas itu. Kemudian dari kejauhan terdengar derap langkah kaki datang menghampiri.

“Mas, maaf aku datang terlambat. Anu tadi mobil yang kutumpangi mogok, jadi aku lama mencari mobil lagi untuk kesini.” kataku takut. Dengan nafas ngos-ngosan mencoba untuk menjelaskan keterlambatanku.

“Indri, ini bukan yang pertama kali kamu telat begini.” katanya tanpa menoleh sedikitpun ke arahku

“Maaf, peranmu sudah kugantikan sama orang lain. maaf aku tidak bisa membantu lagi.” sambungnya kembali dengan tegas.

Dengan muka merah aku mencoba menjelaskan, karena keterlambatan kali ini beneran karena mobil yang kunaiki itu mogok.

“Please mas Bagas, jangan begitu dong. aku janji besok aku akan datang lebih cepat dari schedulle. Beneran ini karena mobilku itu mogok.” mohonku kepada sutradara yang bernama Bagas ini.

“Tidak ndri, aku tidak bisa mentolerir siapa saja yang suka telat.”

“Coba kamu bayangkan, ada empat orang saja yang seperti kamu aku bisa hancur, filmku amburadul.” sambil berdiri menatapku dia coba berlaku tegas.

“Sudah kamu pulang saja, cari kesempatan yang lain, maafkan aku tidak bisa membantu.” sambungnya kemudian kembali duduk tanpa merasa kasihan.

Indri yang berdiri menatap tajam Bagas. Perlahan suara isak tangisnya memecah di ruangan. Bagas sangat tidak berprikemanusiaan, dalam hati dia berkata. Setelah semua telah dia berikan pada waktu casting sebulan yang lalu, sekarang begini bayaran yang dia dapatkan. Dibuang.
Banyak mata memandang adegan ini, beberapa crew yang ada dan para pemeran masih banyak yang berada di lokasi. Mereka semua terdiam pura-pura tidak tahu tapi mendengarkan.
Bagas masih membaca dan tidak menganggapku lagi. Dia seolah tidak mendengarkan tangisku, dadaku sesak, marahku sudah diubun-ubun. Secara perlahan tanganku masuk kedalam tas yang aku bawa. Sebuah pisau telah tergenggam ditanganku kini. tidak ada yang melihat dan Bagaspun masih cuek pura-pura membaca dan meniadakan keberadaanku.
Dengan sigap dan cepat langsung kutusukkan pisau ketubuhnya dari samping. Sebuah tusukan menembus pinggangnya.

“Akhh!” teriaknya kaget sambil terjatuh kesamping dari kursinya.

“Matilah kau! dasar laki-laki tak berperasaan” semprotku sambil manarik pisau dari pinggangnya.

“Indri! gila kamu! apa yang kamu lakukan.” katanya sambil kesakitan menutup luka yang terkoyak dengan tangannya.

“Tolong! tolong!” teriaknya kepada orang-orang yang masih berada disitu.

“Jangan ada yang berani mendekat!” kataku dengan mata nanar menahan marah. “Pergi kalian dari sini, pergi!” teriakku sambil mengusir beberapa crew yang mencoba menghentikan tindakanku.

“Pergi!” kali ini aku sambil menyabetkan pisau ke depan kearah mereka yang mencoba melumpuhkanku.

“CUT!” teriak sang sutradara sambil bertepuk tangan terhadap adegan yang baru dilakukan. Sepertinya dia merasa puas setelah lima kali mengulang adegan yang sama ini.

Tunggu di situ, Aku sedang menujumu

Astaga! Aku baru teringat. Jalan yang sudah kulalui sejauh ini membuat aku harus berbalik arah kembali lagi. Aku semakin mempercepat langkah. Mendung gelap sudah tak tertahankan, mungkin dalam hitungan menit hujan lebat akan mengguyur kota ini tanpa ampun. Suasana mencekam, semua orang terburu-buru untuk segera sampai ketujuan. Tidak peduli apapun urusannya, setiap orang pasti berdoa semoga hujan turun sesaat mereka sudah sampai ke tujuan. Ya semoga hujan memang bisa mengertiin semua orang dibawah sini. Pas disaat jalanan kosong dan semua orang sudah berlindung, baru deh hujan boleh turun.

Oh Tuhan, hujan mulai turun rintik-rintik. Sepertinya hujan masih memberikanku kesempatan untuk sampai kerumah sebelum dia menumpahkan segala isinya. Aku sudah tidak tahan, aku segera berlari.
Tunggu disitu, aku sedang menujumu. Semoga aku bisa cepat sampai ke rumah dengan segera.

Akhirnya sampai juga di rumah. Hujan masih rintik-rintik bertahan, mendung juga masih gelap diatas sana. Aku masuk kedalam rumah, sepi tidak terdengar satu suarapun. Tidak lama kemudian diluar terdengar suara gemuruh, hujan telah turun dengan deras. Aku ucapkan rasa syukurku karena sempat sampai ke rumah sebelum hujan ini turun.
Aku langsung segera masuk ke kamar.

“ihh kan benar.” sewotku.

“Gara-gara jendela sialan ini aku pasti disemprot karena telat briefing.” gerutuku sampil menutup jendela dengan keras tanpa perasaan.

Kutemukan payung yang digantung dibelakang pintu. Dengan tergesa-gesa aku terpaksa menerobos hujan, kembali berjalan menuju ke kantor. Setelah beberapa menit aku berjalan,

“Astaga! kini pintu rumah lupa aku tutup” kagetku sambil menepuk jidat. Kututup payung, hujanpun mengguyur tubuhku. Sambil berbasah kuyup kembali berjalan balik kerumah. Niat kerjaku sudah hilang, hanyut dibawa air hujan yang mengalir masuk ke got.

Aku sampai di depan rumahku. kulihat pintu tertutup rapat, hmm mungkin tertutup karena tertiup angin. Ku pegang gagang pintu dan ku coba membukanya. Terkunci.

“Kok bisaaa?” teriakku kesel. Mimpi apa aku tadi malam sampai dikasih cobaan seperti ini gumamku.

Aku memasukkan tanganku kedalam kantong celana. Tidak kutemukan kunci rumah disitu, ku raba kantong kiri dan belakang celanaku. Tidak ada. wajahku pucat pasi.

“Kunciku hilaaanng!!!”

Jangan kemana-mana, di Hatiku saja

“Di saat ini – ingin kuterlena lagi, Terbang tinggi di awan tinggalkan bumi di sini”

“Di saat ini – ingin kumencipta lagi, kan kutuliskan lagu sambil kukenang wajahmu”

“Malam panjang, remang-remang. Di dalam gelap aku dengarkan syair lagu kehidupan”

——-

Kulantunkan sebuah lagu lawas Syair kehidupan. Petikan gitarku dan suara Dinda menghayutkan orang-orang yang khusuk mendengarkan. Terhayut dalam kisah masa lalu, mungkin cerita cinta waktu sekolah, kisah lama masa kuliah, atau sekadar terbayang kembali sebuah wajah yang telah lama terkubur dalam.
Wajah-wajah dengan tatapan kosong sekedar menatap gelas dihadapannya, secara perlahan tersenyum menandakan alam bawah sadarnya telah terhayut dalam suasana sahdu suara dinda.

Ku ulang lagu ini sampai dua kali agar para pendengar puas bisa mengekspresikan perasaannya dengan berbagai cara. Tidak ada yang berkata-kata, semua terdiam. Ada yang tersenyum, dan banyak yang termenung. Aku menganggukkan kepala kepada Dinda disebelahku agar mulai berdiri dan mulai ngider memungut receh sekedar Rp500,- atau Rp.1000,- pun kami sudah happy, maklum pekerjaan ngamen tidak memiliki target berapa yang harus kami bawa setiap malamnya.

Sementara Dinda memungut uang, kunyanyikan sebuah lagu penutup. Lagu yang menimbulkan nostalgia yang tak berkesudahan. Kuporsir semua perasaan dalam lagu ini agar semakin menimbulkan efek yang dalam bagi para pendengar. Aku yakin mereka yang berkunjung ke kafe ini adalah mereka yang mempunyai beribu cerita manis dan indah yang patut bisa dikenang melalui sebuah lagu.
Lagu “Semua bisa bilang” ku lantunkan dengan sedikit ceria.

“Kalau kau benar-benar sayang padaku
Kalau kau benar-benar cinta
Tak perlu kau katakan semua itu
Cukup tingkah laku”

“Sekarang apalah artinya cinta
Kalau hanya dibibir saja
Cinta itu bukan main-mainan
Tapi pengorbanan”

“Semua bisa bilang sayang, Semua bisa bilang
Apalah artinya cinta, tanpa kenyataan …”

=====

Diluar kafe sambil menikmati toh botol, aku dan Dinda mulai menghitung uang receh yang ada dalam bungkusan permen.

“Wah banyak sekali ya Din.” kataku pada Dinda, tidak ada pecahan Rp.1000,- paling kecil ada Rp.5000,- paling besar ada Rp.20.000,-.

“Kok tumben dapat banyak ya kak”, celoteh dinda kesenangan.

“Iya, itu karena kamu nyanyinya pake perasaan.” jelasku kepada si mungil ini.

Kemudian Dinda membolak-balikan bungkusan permen tempat uangnya. Secarik kertas kecil terjatuh. Dipungut oleh dinda kertas tersebut, dan dibuka lipatannya.
Ada tulisan tangan tertera disitu, dibaca dengan keras oleh Dinda.

“Aku sudah pernah mengatakannya kepadamu,
jangan kemana-mana, tetaplah berada dihatiku.
Tapi kau telah menolaknya.
Sekarang engkau bernyanyi disini, so sweet sih…
tapi bikin hatiku panas”

Dinda berlari kembali kedalam cafe. Dengan marah dia melihat satu persatu pengunjung cafe disitu. Aku menahannya “Sudah Din. Gak usah diperpanjang urusan ini.” aku memegang tangannya, juga sambil melihat sekeliling.
Tidak ada, tidak ada satupun orang yang aku kenal didalam sini. Ah mungkin dia sudah pergi setelah aku dan Dinda selesai bernyanyi tadi.

Aku menarik tangan Dinda dan dia menurut mengikutiku, satu tangan memegang gitar dan satu tangan lagi ku genggam erat tangannya. aku ajak dia berjalan menelusuri trotoar malam. Langit berbintang menyaksikan perjalanan muda mudi ini dalam mencari jati diri.

Tanpa sadar, sepasang mata menatap kepergianku dan Dinda dari parkiran. Di dalam mobil berkaca gelap, sambil mengusap matanya yang sendu, dia bergumam “Semoga bahagia.”

Bangunkan aku pukul 7

Selang infus tertusuk ditangan, selang oksigen menutupi hidung dan mulutnya, wajah sayu terbaring disana. Berbagai macam kabel saling terhubung dan berakhir disebuah layar kecil diatas tempat tidurnya. Bunyi suara tuuuttt panjang menandakan detak jantungnya telah berhenti. Tidak banyak yang bisa dilakukan suster dan dokter untuk membantu disaat darurat tadi. Karena hidupnya memang sudah divonis bisa bertahan untuk sampai beberapa hari saja. Dokter sudah memberitahukan kepada kedua orang tuanya mengenai perihal ini. Dengan kesabaran yang luar biasa mereka bisa menerima takdir yang sudah diberikan kepada anak tersayangnya.
Luki telah pergi, pergi berpulang ke Yang Maha Kuasa. Ayah dan ibunya dengan tegar menghadapi kenyataan yang terjadi. Hanya air mata yang menunjukkan gambaran betapa kasih sayang kedua orang tua kepada anaknya ini.
Aku terpaku disamping kanan jasadnya dengan linangan air mata. Aku melihat saat-saat kepergiannya, tanpa rasa dan tanpa nestapa, kini tinggal senyum yang tergores di bibirnya membuat aku menjadi tegar.
Aku memegang kelu kaku tangannya. Aku masih teringat kata-kata terakhirnya tadi subuh dini hari, setelah beberapa jam dia tidak bisa tertidur.

“Na ma ku luki, ta pi aku tidak se berun tung nama kuh, aku men cintaimu tapii…” katanyanya lirih kepadaku sambil terputus-putus dan tidak bisa menyelesaikan perkataannya karena aku potong dan meminta dia berhenti berbicara karena aku kasihan dengan kondisinya, hanya untuk berbicara saja dia merasakan sesak di dada.

“ssttt, jangan berkata begitu. Aku mencintaimu dan tidak pakai tapi. Aku akan selalu disini menjagamu” potongku sambil memegang lembut tangannya.

Diapun coba untuk tersenyum mendengarkan perkataanku itu.

“A ku akan ti dur kem bali.”

“Bangun kan a ku pu kul tujuh.” katanya lirih dekat sama kupingku.

Ahh ternyata tepat pukul tujuh, dia pergi meninggalkanku.

“Luki, bangun.. sudah pukul tujuh” kataku tertunduk sambil menggengam erat dingin tangannya.

“Sudahlah nak” ibunya coba menenangkanku.

“Ikhlaskan kepergiannya.” sambil mengelus kepalaku ibunya berusaha menjadi semakin tegar.

Menanti lamaran

Rendi adalah kekasihku. Kini dengan pasti aku akan meminta jawaban darinya segera, mengingat hubungan kita yang backstreet tapi kita sudah menjalaninya cukup lama. Aku mengerti jika kedua orang tuanya tidak menyenangiku dan bahkan jelas-jelas menolak keberadaanku, dan karena itu aku sudah pernah mengatakan kalau aku menyerah. Aku akan pergi dari kehidupanmu kataku saat itu. Tapi Rendi dengan yakin mengatakan, kalau dirinya sungguh masih mencintaiku dan memaksa aku untuk tetap bertahan. Ini hanya masalah waktu katanya sambil memelukku. Aku merasakan rasa cintanya yang dalam pada saat itu, pelukannya meluluhkan niatku untuk pergi meniggalkannya. Aku seolah mendapatkan kekuatanku kembali. Aku senang dia begini, dia telah menunjukkan kebenariannya kepada diriku yang lemah ini. Akupun sesungguhnya masih mencintainya. Aku akan meminta maaf padanya jika aku pernah mengatakan kalau aku akan pergi, karena aku tidak tahan dengan cemohan keluarganya. Entah apa yang salah pada diriku, atau aku pernah berbuat salah pada mereka? Entahlah, sepertinya aku juga mungkin perlu instrospeksi diri.

Walaupun hubungan kita hanya sebatas backstreet. hubungan adalah tetap sebuah hubungan, aku yakin dengan ini. Aku berharap di setiap berhentinya hujan akan selalu ada pelangi, Aku berharap di setiap rintangan yang datang, akan datang jawaban pada satu waktu nanti.
Tapi sampai kapan aku harus begini? menunggumu dalam siang dan malam, menanti yang tidak pasti. Aku harus katakan inilah waktu terbaik baginya untuk mengatakan kepadaku.

“Lamarlah diriku ren, aku menunggumu.” kataku di sela-sela gemuruh ombak. “Aku menunggumu disetiap terbit matahari, aku menantimu di setiap pasang dan surutnya ombak ini.” kataku dengan puitis.

“Kamu harus memutuskan sebaiknya bagaimana. Apakah kita sebaiknya lari saja?. Semua tergantung kamu, aku hanya bisa menunggu.” lirihku dengan mengharapkan suatu keputusan.

Rendi yang dari tadi terdiam akhirnya membuka suara.

“Aku sudah memutuskan, kita berangkat sore ini hen.” Jawab Rendi seolah memberikan sebuah harapan.

“Aku akan pulang dulu, packing beberapa pakaian. Nanti aku akan kembali menjemputmu.” katanya sambil memelukku.

Ah Rendi, sungguh perkataan inilah yang sudah lama aku nanti. Dalam pelukannya kini aku terhayut dalam mimpi indah hidup bersamanya.

Rendi beranjak pergi meninggalkanku. Aku bahagia melihatnya pergi, karena dia akan kembali untuk membawaku bersamanya.
Ku pandangi foto-foto di dinding. Semua akan kuturunkan dan kubawa bersama, kebanyakan fotoku berdua bersama Rendi.
Diantara berbagai macam foto ada satu pigura bergambar kapal layar yang dibawahnya ada tulisan nama kita berdua. Dengan tulisan cantik disitu tertulis “Rendi dan Hendrik”.

Untuk Kamu, apa sih yang enggak boleh?

Seperjalanan waktu, detik, menit, jam dan haripun berlalu. Tanpa terasa kini dirimu dan keluarga sudah pindah jauh, kamu terpaksa mengikuti papamu yang pindah tugas. Aku sangat tidak bisa menerima pada awalnya… Tapi siapa diriku yang mengatur segala persoalan keluargamu. Tapi serius deh, sangat berat mengetahui dirimu akan segera pindah walau kamu memberitahukan tentang itu tiga bulan sebelum keberangkatanmu. Menjalani tiga bulan terakhir menjelang keberangkatanmu sungguh berat bagiku, aku tidak bisa berlaku biasa, kadang aku salah tingkah didepanmu. Tidakkah kamu merasakannya? apa kamu juga merasakan itu?

Kadang dalam kebersamaan kita menjelang tiga bulan itu, kita beberapa kali sering berantem. Ya aku rasa suatu kejadian yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Hanya hal-hal kecil saja bisa membuat kita diam-diaman selama hampir 1 x 24 jam. Tapi setelah itu, saat matahari menjelang terbit, fajar segera menyingsing, disaat aku terbangun dari tidur lelapku, perasaan rindu menjadi menggebu-gebu, ingin segera menghubungimu. Berkata ‘maaf’ dan membalasnya dengan menghibur kesedihanmu yang kemarin. Aku sedih disaat hari kepergiannmu dulu, aku hanya mengirim sms dengan sebaris kalimat, tanpa datang mengantarkanmu kebandara. Aku bisa mengerti kebingunganmu terhadap mama dan papamu yang pasti bertanya-tanya kenapa aku tidak datang. padahal teman-teman kita semuanya hadir. aku sendiri kalau menjadi dirimu tentu akan bingung mengatakannya apa yang harus kukatakan.

Tapi ya sudahlah… Itukan dulu, kini tentunya kamu damai disana. Setiap saat dikunjungin sama mama dan papamu. Aku maaf belum bisa mendatangimu, walau sekadar menatapmu pun aku belum berani. Aku sedih dengan apa yang telah terjadi dengan semua ini. Aku sedih karena setiap malam dirimu seolah menatapku, melihatku. Aku tahu kamu rindu sama aku dari sejak kepergianmu dulu sampai sekarang. Mungkin ada beberapa kata yang kamu ingin sampaikan kepadaku, kata-kata yang dari dulu kamu ingin katakan. Tapi aku tahu kok apa yang ingin kamu katakan, karena aku juga ingin mengatakan hal yang sama kepadamu. Kalau kamu itu sangat mencintai aku, aku juga begitu sungguh mencintaimu dan aku selalu ingin melakukan apapun untuk dirimu. Untuk kamu tidak ada yang tidak bisa aku lakukan. Walaupun kini kamu telah jauh sekali dari aku, tapi aku tahu perasaan kamu itu bagaimana, sama dengan kamu yang tahu perasaan aku juga bagaimana.

Kita tumbuh dan bermain dari kecil, hingga kini timbul butir-butir cinta yang dihasilkan dari kebersamaan kita selama ini. Segala halangan sampai rintangan yang pernah terjadi semua sudah kita lalui. Dari mereka-mereka yang suka sama kamu atau teman-temanku yang suka sama aku, semua itu bisa kita hindari karena kita memang saling cinta.

Kini aku merasakan kalau dirimu selalu berada dalam hatiku. Kamu jangan sedih, aku selalu ingat apa yang terjadi dan selalu mencintaimu. Beberapa saat memang aku kadang ikut terhanyut dalam perasaaan ini walau tidak kutunjukkan pada kedua orang tuaku.

Dan aku masih merasa bersalah kepadamu. Aku yang jahat melukai hatimu karena hanya masalah kecil yang selalu terjadi. Sampai aku tidak bisa menghantarkan kepergianmu. Kesedihanku yang paling besar adalah aku tidak bisa hadir pada saat hari pemakamanmu, pada saat hari terakhir kamu didunia ini aku tidak ada. aku tidak mengetahuinya, tidak ada yang mengabarkan kepadaku. Aku sungguh sedih…

Pada hari itu tiga hari setelah kedatanganmu ke kota itu, aku mencoba untuk meng sms dirimu.

Aku tulis β€œsayang.. apa kabar? Gimana keadaan disana? Aku maaf ya tentang hari itu… :*”

Dan beberapa saat kemudian aku menerima balasan sms darimu yang mengatakan

β€œSayang, I miss You so much:*”.

Mendapatkan sms darimu sungguh membuat hatiku girang saat itu. Aku langsung menelponmu, nada sambung terdengar disana tapi telponmu mendadak terputus sebelum kamu mengangkatnya. Aku telpon balik tapi seperti tidak ada sinyal atau memang seperti hp yang sudah dimatikan. Aku takut kalau dirimu masih marah kepadaku sehingga kamu mematikan hpmu setelah sms itu.

Besok dan besoknya aku masih berusaha menelpon kamu dan hpmu selalu saja masih mati. Dengan segala keberanian aku mencoba menelpon orang tuamu menanyakan tentang dirimu. Dan jawaban yang aku dapatkan membuat seolah petir menyambar diriku, hatiku kecut sejuk terasa, jantungku seperti berhenti berdetak, aku tertunduk. Bajuku mulai basah, air mataku mengalir tanpa bisa kutahan. Aku mendapatkan berita tentang kecelakaanmu. Seolah aku akan mati juga saat itu, seolah aku ingin mengejarmu, menangkapmu.

Perasaan bersalahku semakin besar dan besar karena sampai kini aku belum bisa mendatangimu menjengukmu menabur bunga cinta di pusaramu, menyiramkan air sukma di makammu dan memanjatkan doa disamping kuburmu. Aku janji aku akan datang segera ketempatmu, karena aku sangat mencintaimu sayangku…
kamulah cinta kecilku dulu sampai kini sampai akhir hayatmu, sampai akhir hidupku nanti… Always and forever.

Cintaku mentok di Kamu

Pagi dingin menyelimuti kota Batam. Hujan yang mengguyur deras dari tadi malam membuat malas siapapun untuk beranjak dari tempat tidurnya masing-masing. Mengingat hari ini adalah hari Sabtu, weekend bagi sebagian besar orang. Tapi tidak bagiku, aku harus beranjak memaksa tubuh yang malas ini untuk segera kekamar mandi. Air dingin yang membuat menggigil seluruh badan tidak menyurutkan langkahku untuk beraktifitas di hari libur.
Aku bersiap dengan segala perlengkapan kerja, sambil sarapan roti dan segelas teh panas untuk sekadar menghangatkan badan yang kedinginan.
Siap semuanya, akupun berangkat ke kantor dengan mengenderai motor. perjalanan licin dengan udara yang dingin menghantarkan pengendara ini untuk berjalan dengan hati-hati.

Teringat kejadian tadi malam, aku menghadiri acara ulang tahun Shinta, salah satu teman kantorku yang diadakan dirumahnya. Acara cukup meriah dengan dihadiri kebanyakan teman-teman kantor. Cuma ada beberapa teman Shinta yang tidak kukenali, salah satunya Lina. Seorang karyawati disebuah bank swasta. Lina datang bersama dua orang teman lainnya, Widya dan Joko yang berbadan tegap layaknya security bagi mereka. Aku sungguh tertarik dengan wanita yang bernama Lina ini. Orangnya cantik dan enak diajak bicara, kita kenalan dan banyak menceritakan tentang background masing-masing. Lina berasal dari Bali, sudah dua tahun ini dimutasi atau lebih tepatnya meminta dimutasikan karena mengikuti ayahnya yang pindah tugas kesini, dan kini ditugaskan mengisi kantor cabang di Batam. Dan ternyata rumahnya juga tidak jauh dari komplek rumahku.
Di akhir acara, Shinta – temanku yang berulang tahun menghampiriku sebelum aku beranjak pulang. Dia memberikanku secarik kertas dan langsung memasukkan kedalam saku jacketku. Ini dari Lina, katanya dan kamu jangan baca disini ya.
Malam itu hatiku berbunga-bunga karena dapat perhatian dari seorang Lina dan entah apa yang dituliskan di kertas itu, sebuah janji? atau alamat rumahnya? ahh tidak sabar rasanya untuk segera membaca apa yang ditulisnya.

Sesampainya aku dikantor, aku langsung menuju meja kerjaku dan ku raih secarik kertas dari jaket yang kukenakan. Untung tidak hilang, tadi malam aku langsung tidur dan lupa tentang secarik kertas yang ada didalam jacket, karena hujan sudah turun disaat aku sampai kerumah, akupun langsung tertidur.

Aku membaca tulisan tangan yang rapi di atas kertas itu, “081274851222 cintaku mentok di kamu, telp balik pls”.

Ini sebuah pengharapan yang sudah lama aku mimpikan, kini ada wanita yang memberikan sinyal kepadaku dan tentunya tidak boleh aku lewatkan. Jam baru menunjukkan pukul 08,35. aku memberanikan diri untuk memutar nomor yang tertera dengan tidak sabar. Aku berdoa semoga ini jawaban Tuhan untuk mengakhiri masa jombloku yang sudah lama. Terdengar suara nada masuk di seberang sana setelah aku memutar nomor tersebut.

“Selamat pagi, Joko disini.” terdengar suara cowo yang menjawab.
Secepat kilat langsung kuputuskan sambungan telpon. Sekelebat bayang wajah Shinta tertawa terbahak-bahak menertawaiku sambil koprol. πŸ˜‰

Bales kangenku dong

Reza menata rapi pakaian yang telah di setrika dari dua jam yang lalu. Dia harus menyelesaikan semua pekerjaan ini agar bisa menikmati malam dengan santai dan nyaman. sudah dua malam reza begadang demi menyelesaikan sisa-sisa pekerjaan mirsa pacarnya, yang mendadak harus pulang ke Bandung karena ada keperluan mendadak yang harus diselesaikan. Pekerjaan mirsa tidak sulit diselesaikan karena mereka berdua memang bekerja pada kantor yang sama. Semua sudah siap dan telah rampung kini.

Mereka adalah pasangan yang ideal, reza tinggi cakep sedangkan mirsa juga tinggi cantik. Hubungan yang sudah terjalin hampir lima tahun membuat mereka sudah saling percaya satu sama lain. Tidak ada yang perlu dicurigai jika salah satu dari mereka harus melakukan pekerjaan keluar kota.
Tahun depan mereka merencanakan untuk menikah. persiapan matang telah mereka lakukan, sedikit demi sedikit mereka telah cicil dari sekarang.

Malam itu Reza mulai menikmati waktu-waktu santainya. Dia menonton TV sambil ditemani dengan secangkir susu panas. Sejurus kemudian terdengar ketokan dari pintu depan. Rezapun beranjak menuju ke ruang tamu. “Loh kok, pulang gak ngabarin..” katanya kaget melihat sosok sang kekasih muncul dengan raut muka yang capek.
“iyaa tau tuh mummy, katanya sudah baikan dan maksa suruh pulang segera ke Jakarta” tuturnya sambil mendekap erat tubuh Reza. Rasa kangen selama tiga hari membuat mereka sejenak berpelukan.
“Aku gak bawa apa-apa yah, abis tadi juga buru-buru, Bandung di guyur hujan dari pagi sampai berangkat tadi” sambil masuk kekamar Mirsa meninggalkan Reza diruang TV.
Kemudian dia keluar kamar sudah berganti pakain rumah yang nyaman dan duduk disofa disamping reza.

“Gimana say kerjaannya? ” tanya mirsa. “Udah aku letakkan dimeja kerja kamu tadi. aku sudah dua kali periksa, kelihatanya perfect” jawab Reza meberikan laporan.

“Gimana mummy? sudah baikan?” sambil memeluk tubuhnya dari samping Reza bertanya.

“Mummy ok, dia cuma kangen aja sama aku, makanya aku disuruh pulang bentar.” desahnya kegelian karena aku menggelitik pinggangnya.
“Udah ah.. geli dong say!” elak Mirsa bergeser sedikit kedepan menghindar dari jari-jariku yang ikutan kangen untuk menggelitiknya.

“Aku pulang ya dek” kata Reza memanggil Mirsa dengan panggilan adek.
“Udah jam 11 malam, kirain tadi kamu pulang besok pagi, lagian besok aku ada janji sama customer untuk membicarakan proyek akhir bulan”.

“Gak, kamu jangan pulang dong. Temenin aku malam ini” pujuk Mirsa sambil menggelayutkan tangannya pada lengan reza.
“Please, malam ini saja” mohonnya. “Kamu gak kangen ama aku ya say, bales kangenku dong” pintanya sambil meluk Reza dari belakang.

Sambil menghela nafas panjang, Reza menganggukan kepala tanda setuju untuk menemani pacarnya disini. Bukan Reza jika tidak bisa membahagiakan kekasihnya.
Malam itu menjadi malam yang panjang bagi mereka. Tiga hari berpisah seolah tiga tahun tak berjumpa.

—————

Bunyi ketokan pintu depan terdengar sampai kekamar. Membangunkan Reza yang masih dibungkus selimut. Mirsa sudah tidak ada dikasur, mungkin dia sudah bangun dan sekarang berada didapur untuk menyiapi sarapan.
“Dek… ada orang diluar, tolong bukain pintu depan dong” teriak Reza. Dia masih tidak beranjak dari tempat tidur. Udara dingin AC masih membuatnya malas.
Kembali suara ketukan pintu depan terdengar dan sekarang lebih keras.
Dengan malas Reza bangun menuju ke dapur mencari keberadaan Mirsa. Didapur tidak ada, dikamar mandi tidak ada, ah mungkin ke warung membeli telor mengingat stock habis olehnya.
Reza menuju ke pintu depan dan membuka pintu.

“Hi say, baru bangun yaa.” tegur Mirsa melihat Reza yang masih kelihatan lusuh. Tapi tetap memeluk Reza dengan hangat. Sambil masuk kedalam rumah mirsa menenteng dua kantong bawaannya. Meninggalkan reza yang masih kelihatan bingung.

“Itu ada oleh-oleh dari mummy satu kantong buat kamu, yang satu lagi buat aku, mummy kirim salam dan nanyain kok kamu gak ikut. aku katakan aja kalau ada kerjaan yang nggak bisa di tinggal.” cerocosnya dipagi ini.

“Kamu dari mana dek?” tanya Reza sudah mulai curiga dan kuatir.

“Kan aku udah janji pulang pagi ini, tadi nebeng mobil wak yang kebetulan berangkat ke bandara.

Rezapun bengong sambil terduduk di sofa.

Sambungan hati jarak jauh

“Aldo…” teriak mamaku.

“Katanya minta dibangunin jam 5 subuh… hei banguun, sekarang sudah hampir jam 6 nih”

“Ayo nanti kamu telat” mamaku sambil mengoyang-goyangkan kakiku.

“haaa jam berapa sekarang?” aku terbangun sambil mengulek-ngulek kuping kananku dengan jari. Sepertinya aku belum sadar betul kalau aku belum belajar untuk ujian matematika nanti. Maksud hati mau belajar satu jam sejak dari jam 5 tadi, aku rasa cukup karena bahannya sedikit.

“Jam 6?, mati aku mah, mati aku mah, telaatt” loncatku dari atas kasur yang berantakan. Aku langsung ngacir ke kamar mandi di iringi tatapan mamaku sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.
Aku mandi dengan cepat, karena aku harus belajar lagi, belum lagi motorku di pinjam sama Rudi. Aku memaki-maki Rudi yang pulang jam dua dinihari tadi. sejak jam sepuluh malam dia masih bersemangat ngobrol denganku dan aku sudah mengingatkannya kalau aku ada ujian besok dan aku harus tidur cepat agar tidak bangun telat. Dia malah betah dikamarku tidak mau beranjak pulang. Dan antusias mau mengajarkanku satu ilmu baru yang dia dapatkan dari pamannya. Dia mengatakan kalau ilmu ini semacam ilmu telepati.

“ayo Do, kita praktekan ilmu ini” katanya dengan serius.

“Aku baru mempelajarinya dan belum diujicoba. Harus dua orang pelakunya, kalau aku sendiri yah tidak bisa” terangnya agar aku mengerti.

“Gimana cara kerjanya ilmu ini?” tanya diriku mulai sedikit penasaran.

“Nah bagus lo sudah mulai tertarik sepertinya” Rudi senang mengetahui aku terpancing.

“ini ilmuu, pelakunya tidak boleh dipaksa. kalau terpaksa pasti tidak jalan” terangnya.

Kemudian Rudi memerintahkan aku untuk duduk bersila, membelakangi dirinya yang juga duduk bersila. Aku disuruhnya tenang dan tidak mengeluarkan sebuah katapun selagi dia merapal rapalan.
“Lo harus tenang, bikin diri lo senyaman mungkin, coba ngebayangin kalau lo lagi di tepi sungai yang mengalir sejuk” perintahnya kepadaku.
Akupun melakukan yang diperintahkan dengan penasaran. Hampir 15 menit lamanya dia melakukan ini, terasa kesemutan kaki menunggu dia menyelesaikan semua rapalan.

“Selesai” Rudi beranjak berdiri sambil minum air putih yang ada di meja belajarku.

“Trus, gimana cara kerjanya Rud? tanya diriku bingung.

“Aku belum tahu” katanya sambil menyengir. “Kan ada proses aktivasi tiga atau empat jam” alasannya mengeles. Emang baru beli kartu telpon,pake aktivasi-aktivasi segala, gerutuku dalam hati.

“Besok gue telpon lo deh buat ngetest ini” sambil mengemasi barang-barangnya. Dia pulang dan meminjam motorku. Alah ribet banget, gumamku dan menyesal ikut-ikutan. Aku masuk kekamar dan tidur secepatnya setelah menghantarkan dia keluar dan pulang.

Untungnya aku tidak menunggu lama untuk mendapatkan tumpangan, dua menit aku berdiri bus jurusan arah sekolahku muncul. Aku bergegas masuk dan mendapatkan kursi dibelakang. Aku membuka buku dan mulai belajar sesempatnya.

“Aldo”, ada suara terdengar dari kupingku. Jelas terdengar dekat sekali. Aku kaget dan menoleh kekanan dan kiriku, memastiakn bahwa bukan orang yang disebelahku yang memanggil.

“Jangan bingung do, ini gue. lo yakin kan sekarang kalau ilmu ini keren, gue gak perlu habisin pulsa buat nelpon lo hehehe”

“ohw iya, lo belum bisa ngejawab gue kan?, dengerin nih gue kasih tahu caranya”.
“Dengerin baik-baik ya. Setiap lo mau bicara ama gue lo kedipin tuh mata lo dua kali trus ngomong deh tapi dalam hati, gue pasti denger”
jelasnya kepadaku.

Akupun mencoba mengedipkan kedua mataku bersamaan dua kali.
“Test test” aku mencoba melakukan tepati kepadanya.

“Test diterima Do” jawabnya jelas ditelingaku.

“Gila canggih banget” kataku girang sambil nyengir. Kutoleh kepalaku kekanan dan kekiri untuk memastikan tidak ada yang melihat aku tersenyum.

“Canggih dong… Rudi gitu loh” bangganya.
“Tenang gue tau lo belum belajar. lo santai aja, gue bantuin lo ntar.

“Wah asik nih, beneran ya lo bantuin gue. asli gara-gara lo gue gak sempat belajar” kataku sambil tersenyum.

Bunyi bel Sekolah berdering dengan kerasnya. Bersamaan dengan keluarnya diriku dari dalam bus, aku berlari segera memasuki gerbang. Tapi ada tangan menahan kedua bahuku dari belakang, membuat lariku terhenti. Aku tidak bisa melihat tangan siapa yang menahanku dan aku tidak bisa berlari lagi.

“Aldoo, banguun…” mamaku mengguncang-guncang bahuku agar aku terbangun.

“Susah banget sih bangunnya. Katanya mau belajar, ayo sekarang hampir jam 5. Sana bangun Subuh dulu” mama beranjak keluar kamar setelah mengetahui aku sudah tersadar dengan tatapan kosong.

Cuti sakit hati

“Boss, aku izin cuti ya tiga hari ini” pintaku pada atasan yang biasa aku panggil boss ini. Ya, dia memang boss dikantor tempat aku bekerja. Aku sudah disini sejak tiga tahun yang lalu sebagai sekretaris, tepatnya sekretaris pribadi. Tahulah kerjaan seorang sekretaris, dari handle semua schedulle sampai detail urusan pribadi, dia sering meminta aku agar bisa membantunya. Ya sebagai bawahan aku sulit untuk menolak. Dia sangat baik, kadang kebaikannya berlebihan menurutku. Kadang aku sempat berpikir kalau dia itu menyukaiku. Wah gawat, aku sampai berpikiran seperti ini. Tapi dia sangat tegas untuk beberapa hal.

“Apaan sih kamu din, kamu sudah tidak punya cuti lagi” katanya sambil menggurutu karena permintaanku. suaranya berat seperti orang yang baru bangun tidur. Ya, karena sekarang pukul dua dini hari. Aku tahu dia pasti menjawab panggilan ini, dia tidak mungkin tidak mengangkatnya. Serepot apapun dia, jika aku call pasti dijawab.

“Cuti kamu sudah habis tahun ini, lagian besok hari Senin. Kamu gak cukup ya libur weekend?” dengan tegas dia berkata ditelpon kepadaku.

“Kamu sekarang dimana?

“Kamu nggak dikost kamu ya, tadi aku telpon BB kamu tapi mati, aku telpon kekost katanya kamu tidak pulang dari malam Sabtu”

“Kamu dimana aku jemput kamu sekarang” serobotnya tanpa memberikan kesempatanku berbicara.

Aku terdiam, aku sulit untuk mengatakannya. Mataku sudah berair dari tadi, antara sedih, marah dan bingung. Aku memang tidak pulang ke kost setelah selesai kerja petang jumat. Aku nginap dirumah teman. Aku sengaja melakukan ini karena aku perlu waktu untuk menenangkan diri.

“Boss, kalau memang cuti tahunanku sudah habis, aku tetap memaksa untuk mulai cuti besok” dengan nekat aku mengatakan ini.

“Aku ambil cuti sakit hati”

“Aku sudah telat tiga mingguu.. kan janjinya gak sampai beginii…” aku mengatakannya sambil menangis.

Tut..tut.tut.. telponku terputus. Entah sengaja dimatikan atau HP nya yang habis batere.