“Cut!” teriak sang sutradara menandakan bahwa pengambilan gambar untuk section ini selesai.
“Ayo semua istirahat, lima belas menit lagi kita continue.” sambungnya dengan semangat sambil turun dari kursi yang berkaki tinggi.
Laki-laki muda bertopi hitam ini dengan serius membaca naskah selanjutnya sambil mengepulkan asap rokok kesamping. Kadang tertawa sendiri dan kadang menyeringai menandakan bahwa dia benar-benar menghayati tulisan yang ada di kertas itu. Kemudian dari kejauhan terdengar derap langkah kaki datang menghampiri.
“Mas, maaf aku datang terlambat. Anu tadi mobil yang kutumpangi mogok, jadi aku lama mencari mobil lagi untuk kesini.” kataku takut. Dengan nafas ngos-ngosan mencoba untuk menjelaskan keterlambatanku.
“Indri, ini bukan yang pertama kali kamu telat begini.” katanya tanpa menoleh sedikitpun ke arahku
“Maaf, peranmu sudah kugantikan sama orang lain. maaf aku tidak bisa membantu lagi.” sambungnya kembali dengan tegas.
Dengan muka merah aku mencoba menjelaskan, karena keterlambatan kali ini beneran karena mobil yang kunaiki itu mogok.
“Please mas Bagas, jangan begitu dong. aku janji besok aku akan datang lebih cepat dari schedulle. Beneran ini karena mobilku itu mogok.” mohonku kepada sutradara yang bernama Bagas ini.
“Tidak ndri, aku tidak bisa mentolerir siapa saja yang suka telat.”
“Coba kamu bayangkan, ada empat orang saja yang seperti kamu aku bisa hancur, filmku amburadul.” sambil berdiri menatapku dia coba berlaku tegas.
“Sudah kamu pulang saja, cari kesempatan yang lain, maafkan aku tidak bisa membantu.” sambungnya kemudian kembali duduk tanpa merasa kasihan.
Indri yang berdiri menatap tajam Bagas. Perlahan suara isak tangisnya memecah di ruangan. Bagas sangat tidak berprikemanusiaan, dalam hati dia berkata. Setelah semua telah dia berikan pada waktu casting sebulan yang lalu, sekarang begini bayaran yang dia dapatkan. Dibuang.
Banyak mata memandang adegan ini, beberapa crew yang ada dan para pemeran masih banyak yang berada di lokasi. Mereka semua terdiam pura-pura tidak tahu tapi mendengarkan.
Bagas masih membaca dan tidak menganggapku lagi. Dia seolah tidak mendengarkan tangisku, dadaku sesak, marahku sudah diubun-ubun. Secara perlahan tanganku masuk kedalam tas yang aku bawa. Sebuah pisau telah tergenggam ditanganku kini. tidak ada yang melihat dan Bagaspun masih cuek pura-pura membaca dan meniadakan keberadaanku.
Dengan sigap dan cepat langsung kutusukkan pisau ketubuhnya dari samping. Sebuah tusukan menembus pinggangnya.
“Akhh!” teriaknya kaget sambil terjatuh kesamping dari kursinya.
“Matilah kau! dasar laki-laki tak berperasaan” semprotku sambil manarik pisau dari pinggangnya.
“Indri! gila kamu! apa yang kamu lakukan.” katanya sambil kesakitan menutup luka yang terkoyak dengan tangannya.
“Tolong! tolong!” teriaknya kepada orang-orang yang masih berada disitu.
“Jangan ada yang berani mendekat!” kataku dengan mata nanar menahan marah. “Pergi kalian dari sini, pergi!” teriakku sambil mengusir beberapa crew yang mencoba menghentikan tindakanku.
“Pergi!” kali ini aku sambil menyabetkan pisau ke depan kearah mereka yang mencoba melumpuhkanku.
“CUT!” teriak sang sutradara sambil bertepuk tangan terhadap adegan yang baru dilakukan. Sepertinya dia merasa puas setelah lima kali mengulang adegan yang sama ini.